Kejadian Absurd di Bulan Puasa
Sore itu kira-kira jam 5, gue baru pulang kerja. Cuaca yang panas juga kondisi tubuh yang begitu lemas, badan ini langsung ambruk jatuh ke kasur seperti bangunan kosong yang dirubuhkan. Maklum karena bulan itu adalah bulan puasa. Dalam posisi tubuh yang terbaring lemas bibir gue hanya terucap air.... aaiirr... aaaiiirrr... es buaah... mie glosor... kolaak... dan semua hidangan khas dibulan puasa gue sebutin satu-satu dengan suara yang parau lalu "glepeuk" terlelap tidur.
Pukul 6 kurang 15 menit gue dibangunin nyokap buat siap-siap buka puasa, gue berjalan merangkak menuju ke dapur tempat hidangan puasa yang sebentar lagi akan disantap, dalam perjalanan dari kamar gue ke dapur gue terus berjalan merangkak sembari mengucapkan semua hidangan puasa, di samping kanan dan kiri gue ada kedua adik gue yang menyemangatin "Ayook aa pasti bisaa, didapur ada es buah kesukaan aa, ada agarnya, ada rumput lautnya, juga buah-buahan, ayook", tapi dibelakang ada bokap yang menggoda iman gue
"SAN...LIHAT APA YANG BAPAK PEGANG", gaya bicara mirip presenter silet
"Sendok pak!"
"BUKAN BEGO, MAKSUDNYA INI BAPAK PEGANG KOLAK... ENAK SEKALI KOLAK INI", tangannya sambil mengaduk-aduk kolak
"kolak? kolak apa yang bapak pegang?", langkah gue terhenti sejenak
"KOLAK BIJI SALAK!", diselingi senyuman membujuk
"BODO AMAAT PAK, MAU BIJI SALAK KE, BIJI APA KE, GAK SUKA!", geram, ngegoda tuh elitan dikit napa
"OH YASUDAH BUAT BAPAK AJA KALAU GITU", sambil melaju ke dapur dengan sepatu roda dan sayap ibu peri dipunggungnya
Hahaha maaf ini cuma didramatisir, jika ada kesamaan nama tokoh, tempat kejadian ataupun cerita, itu adalah kebetulan semata dan tidak ada unsur kesengajaan.
Duur bedug, azan berkumandang, sudah waktunya berbuka puasa. Semua hidangan sudah tersedia untuk disantap, gue lahap satu per satu hingga perut ini tak sanggup menampung satu butir nasi pun. Ketika perut kekenyangan tiba-tiba ada telpon masuk, ternyata dari temen gue, alvian. Dari percakapan ditelpon, dia ngajak gue datang ke Taken (salah satu tempat nongkrong di Bogor) untuk buka puasa bersama, disana dia bersama dengan baron, salah satu temen gue juga. "Eehh gila lu ndro!" waktunya udah telat kali buat buka puasa bersama dan gak mungkin gue makan lagi, ini perut udah kaya gunung semeru. Akhirnya gue suruh mereka datang ke rumah. Sesampainya mereka di rumah gue, mereka langsung nyulik gue, gue dibonceng sama alvian, disepanjang perjalanan gue berontak dan terus berontak, "Ikeeh...ikeeh, kimociii... yameteee!" hanya itu kata-kata yang gue lontarkan saat berontak dan setau gue hanya itu kata yang pas untuk dilontarkan.
Ditengah-tengah perjalanan, baron memisahkan diri, katanya dia mau menjemput teman kerjanya yang sedang pelatihan di Bogor, setelah itu kembali bergabung dengan kita. Gak lama gue sama alvian sampai di tempat tujuan. Ternyata dia nyulik gue ke Taken, tempat dia ngajak gue buka puasa bersama. Ya Salaaam. Dalam hati gue bertanya-tanya, "kenapa ini anak ko demen banget di tempat ini, gak ada tempat lain apa!".
"Ngapain sih yan kita disini?", tanya gue dengan penasaran
"Udah diem aja loe, sebelum nyulik loe, gue janjiannya disini sama baron"
"Si baron mau bawa temen ceweknya kesini, sekalian kan dibelakang ada wisma", sambung perkataan alvian sambil menggerak-gerakan kedua alisnya
Waah.. Wanjirr, seketika gue langsung bengong, maksud alvian ngomong barusan itu apaan?. Gue berfikir keras, imajinasi pun menjadi liar. Apakah ini?... haruskah gue... aah sudahlah gue liat aja nanti sesampainya si baron dan temennya itu. Ketika gue sedang menunggu tiba-tiba ada mobil fortuner berwarna hitam berhenti di depan gue, jendela kacanya kebuka, sontak gue kaget ketika liat wajah dibalik kaca jendela tersebut, seorang lelaki tua berwajah garang, berjenggot lebat, memakai udeng, bersorban juga memakai jubah. Mampus! gue berfikir kalau gue lagi dirazia sama ormas, ketangkep basah disangka sepasang maho lagi ngedate di pojokan jalan Taken. Gue ketar-ketir sama si alvian, saling sikut-sikutan. Enggak lama lelaki tua itu mengucapkan sesuatu, dia menanyakan tempat makan yang disebutnya ada dimana, dengan cepat kita berdua menunjukkan tempat makan tersebut
"di..disana pak!", ucap gue sama si alvian dengan nada ketakutan
"Oh, disana?, Oke makasih", jawab si bapak sambil menutup kaca mobilnya
Pyuuhh.. amaan, ternyata cuma nanya tempat makan
Setelah kejadian itu gue menyarankan si alvian buat pindah tempat, dan kita pun pindah ke tempat yang banyak berjualan makanan. Disana si alvian beli batagor dan gue beli es dung-dung durian. Kita berdua duduk dan makan bersamaan. Ketika itu gue merasa ada yang aneh tapi apa ya?. Gue cek suasana sekitar dan benar ada yang aneh. Damn! ternyata disekeliling kita banyak orang yang sedang berpacaran, berpasang-pasangan, ada yang bercanda tawa sambil pesen makanan, ada yang suap-suapan dibangku taman, ada juga yang mojok disemak-semak taman dalam kegelapan. Gue berdiri menyaksikan mereka semua, "Waah pada gak beres nih, di bulan puasa gini bukannya terawih malah pada pacaran", eh..padahal gue juga enggak terawih. Kembali duduk. Gue liatin si alvian, dia enggak peduli dengan suasana sekitar terlihat dari lahapnya dia menyantap batagor yang dimakannya. Saat itu kita benar-benar terlihat seperti maho newbie yang baru ketemuan yang kenalan dimedia sosial.
Singkat cerita akhirnya kita bertemu dengan baron dan temen ceweknya itu. Kita bertemu di tempat lain karena saat kita sedang nunggu tiba-tiba turun hujan. Di tempat tersebut mereka semua makan doclang, sementara gue cuma liatin mereka makan karena perut gue masih kekenyangan. Sesudah makan, alvian mengajak kita semua untuk main ke rumahnya tapi baron dan temennya itu enggak bisa, dia harus nganterin pulang temennya itu ke hotel. Gue dan alvian saling berpandangan sambil berkata "menang banyaak niiih!". Setelah itu kita berpisah, baron dan temennya ke hotel dan gue sama alvian balik ke rumah masing-masing.
Sesampai di rumah, gue rebahan sambil tidur-tiduran hingga enggak sadar gue ketiduran. Kira-kira jam 1 malam Handphone gue berdering, gue kebangun dan ternyata ada telpon dari baron, ditelponnya itu dia nyuruh gue nginep di hotel yang sama dengan temen ceweknya. Dia juga nyuruh buat ajak alvian. Gak pake mikir lama gue langsung jemput alvian kerumahnya. Gue ceritain soal nginep di hotel itu ke alvian lalu dia pun langsung siap-siap. Sesudah itu kita langsung menuju hotel tapi sebelumnya gue sempetin beli martabak telur dulu buat sahur dihotel. Sesampainya di parkiran hotel kita disambut oleh baron dan temennya itu, kita langsung diajak ke kamar. Didalam kamar ada kita berempat: gue, alvian, baron dan temen ceweknya. Gue canggung setengah mati, ini maksudnnya mau ngapain kita nginep di hotel dengan 1 cewek, sekamar lagi. Fikiran gue kacau gak karuan, gue berfikir apakah ini waktunya meragakan adegan film-film yang pernah gue tonton? yang banyak orang menyebutnya "Gangbang". Entahlah, seketika jantung gue menggebu-gebu, untuk pertama kalinya gue ngalamin hal seperti ini. Di dalam kamar gue sama alvian diem di kasur dan baron sama temen ceweknya duduk ngobrol di depan jendela yang agak jauh dengan kita.
"Yan si baron sama temennya lagi ngobrolin apa sih?", tanya gue
"Gak tau, mungkin lagi nego", jawab alvian
"Maksudnya nego apaan?", pertanyaan gue makin penasaran
"Udah liatin aja entar"
Kita pun terdiam mengamati mereka. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tidak berapa lama temen ceweknya pun berdiri, dia berjalan mendekati kita, melihat ke arah kita berdua. Badan gue jadi sedikit gemetaran dan menggigil. "Duuh...aduuh gimana ini?" tanya gue dalam hati. Ternyata suhu AC nya terlalu dingin membuat badan gue gemetaran dan menggigil. Cewek tersebut mengucapkan salam perpisahan, ternyata dia mau tidur di kamarnya, kamar yang berbeda dengan kamar kita. Ternyata gue udah salah sangka atas prasangka-prasangka kotor yang gue fikirkan saat itu. Lain hal dengan alvian, dia seperti merasa rugi "ya..yaaah, engga jadi deh!". Setelah gue tanya ke baron soal nginap di hotel ini ternyata kamar yang kita tempati adalah kamar atasan temen ceweknya baron, kamarnya tidak terpakai lantaran atasannya tidak tidur di hotel melainkan pulang ke rumahnya.
Pagi harinya kita pulang, kira-kira pukul 6 kita sudah meninggalkan kamar. Saat kita akan mengembalikan kunci kepada resepsionis, gue seperti melihat tatapan yang aneh dari si abang resepsionisnya. Sial, apa mungkin si abangnya itu menyangka kita bertiga penyuka sesama jenis?, dan mungkin berprasangka kita menginap di hotel untuk melakukan adegan treesome. Biar enggak disangka yang tidak-tidak, kita bergegas meninggalkan hotel tersebut.
Get notifications from this blog
Boleh kok kalau mau berkomentar, tapi jangan mengandung SARA ya!