Kalau Ada 3 Permintaan Ajaib, Kalian Bakal Minta Apa?

Kalau Ada 3 Permintaan Ajaib, Kalian Bakal Minta Apa?

Kalau Ada 3 Permintaan Ajaib, Kalian Bakal Minta Apa?

Pernah nggak sih, lagi bengong sore-sore terus tiba-tiba kepikiran hal yang agak "halu" tapi seru? Kayak misalnya, tiba-tiba ada keajaiban yang datang dan nawarin kita tiga permintaan gratis. Bukan buat jadi pahlawan super yang terbang ke luar angkasa, tapi lebih ke hal-hal yang bikin hidup terasa lebih ringan dan bermakna.

Setelah merenung (dan sedikit menghayal), kalau kesempatan itu beneran ada di depan mata, inilah tiga hal yang bakal langsung gue sebut tanpa pikir panjang:

1. Jentikan Jari "Sultan" (Sekali Petik, Muncul Rp. 50 Juta)

Jujur saja, kita semua pasti punya daftar "keinginan tertunda" karena saldo yang belum mencukupi. Bayangkan kalau tiap kali kita butuh—entah itu buat bayar cicilan yang mepet, bantu renovasi rumah orang tua, atau sekadar pengen jajan tanpa liat harga—kita tinggal memetikkan jari dan cling! ada uang Rp50 juta di depan mata. Rasanya bukan soal pengen jadi orang paling kaya sedunia, tapi lebih ke perasaan tenang karena tahu "semua bakal baik-baik saja" secara finansial.

2. Tangan yang Menyembuhkan Segala Penyakit

Melihat orang tersayang sakit itu rasanya jauh lebih berat daripada sakit itu sendiri. Makanya, permintaan kedua gue adalah kemampuan untuk menyembuhkan segala penyakit, baik itu yang medis maupun non-medis. Bayangkan betapa leganya bisa menghilangkan rasa sakit seseorang hanya dengan sentuhan tangan. Bisa melihat senyum orang-orang yang tadinya putus asa karena penyakitnya, rasanya bakal jadi "kekayaan" yang jauh lebih mahal daripada uang mana pun.

3. Teleportasi: Bye-Bye Macet dan Tiket Mahal!

Siapa sih yang nggak capek sama macet atau perjalanan jauh yang menguras tenaga? Dengan kemampuan teleportasi, dunia berasa jadi kayak halaman rumah sendiri. Mau sarapan di Paris, makan siang di Padang, terus sorenya sudah santai lagi di kamar sendiri? Bisa banget! Selain hemat ongkos dan waktu, kemampuan ini bakal bikin kita punya lebih banyak waktu buat orang-orang yang kita sayang tanpa terhalang jarak.

Tiga permintaan tadi emang kedengarannya kayak mimpi di siang bolong, ya? Tapi dari "kehaluan" ini, gue jadi sadar satu hal: ternyata yang kita butuhin itu simpel banget. Kita cuma pengen rasa aman secara finansial, pengen orang-orang yang kita sayang selalu sehat, dan pengen punya waktu lebih banyak tanpa habis di jalan.

Meskipun jentikan jari belum bisa ngeluarin uang dan kita belum bisa teleportasi buat menghindari macetnya Senin pagi, setidaknya kita masih punya doa dan usaha yang bisa kita lakuin pelan-pelan.

Nah, sekarang giliran kamu yang berbagi. Kalau seandainya jin di lampu aladin beneran muncul di depanmu hari ini, 3 permintaan apa yang bakal kamu sebutin? Tulis di kolom komentar ya! Siapa tahu dengan ditulis di sini, impian kamu jadi lebih dekat buat jadi kenyataan. Sampai ketemu di obrolan berikutnya!

Melunasi Hutang Waktu: Tentang Janji Kecil di Hari Minggu

Melunasi Hutang Waktu: Tentang Janji Kecil di Hari Minggu

Melunasi Hutang Waktu: Tentang Janji Kecil di Hari Minggu

Bagi kita orang dewasa, kata "nanti" sering kali hanyalah cara praktis untuk menunda rengekan di tengah tumpukan pekerjaan atau rasa lelah yang menghimpit. Namun, bagi sepasang mata kecil yang menatap kita dengan penuh harap, "nanti" adalah sebuah janji suci yang dicatat lekat-lekat dalam ingatannya. Hari ini, gue memutuskan untuk melunasi hutang itu di Kidszilla, Mall Jambu Dua. Bukan karena tempatnya yang mewah, tapi karena gue tidak ingin menjadi orang pertama yang mengajarkan dia arti patah hati karena sebuah janji yang diingkari.

Tepat pukul sepuluh pagi, rumah mulai terasa sibuk dengan energi yang berbeda. Si kecil sudah sigap dengan jaketnya, duduk di depan pintu sambil berusaha memakai sepatunya sendiri dengan penuh semangat. Di kamar, Ibunya masih telaten memastikan padu padan baju dan celana agar ia tampil nyaman sekaligus rapi, Sementara itu, gue sudah jadi 'tim sorak' di luar sambil memanaskan motor. Setelah semua 'pasukan' lengkap, kami pun tancap gas dengan hati yang ringan.

Sesampainya di tempat wahana bermain, begitu kaki si kecil menyentuh karpet busa, ia seolah bertransformasi menjadi penjelajah kecil tanpa rasa takut. Ia berlari zigzag menghindari rintangan, lalu dengan napas memburu, memanjat jaring-jaring tali dengan jemari mungil yang mencengkeram kuat. Momen paling magis adalah saat ia meluncur bebas dari perosotan tertinggi dengan tawa lepas yang mengalahkan riuh musik di sana.

Tak berhenti di situ, ia segera menceburkan diri ke dalam lautan mandi bola. Di tengah ribuan bola plastik warna-warni itu, ia tampak begitu mungil namun sangat bahagia, seolah sedang berenang di samudera imajinasinya sendiri. Sesekali ia muncul ke permukaan, melempar bola ke udara dengan mata berbinar, lalu kembali 'tenggelam' dalam keriangan plastik yang bergemerincing.

Puas bergerak aktif, ia berpindah ke sudut yang lebih tenang: wahana pasir plastik. Dengan tekun, ia mengeruk butiran plastik halus yang menyerupai pasir itu menggunakan sekop kecil, mengisinya ke dalam ember, dan membangun 'istana' impiannya. Di sini, gue melihat sisi lainnya—seorang arsitek kecil yang penuh konsentrasi, jemarinya lincah memilah butiran plastik, menciptakan dunia mungilnya sendiri di tengah hiruk pikuk mall.

Di antara aroma pengharum ruangan dan gelak tawa si kecil, gue tersadar: bagi kita ini mungkin hanya satu atau dua jam yang melelahkan, tapi bagi dia, ini adalah momen ajaib di mana dunianya dihargai sepenuhnya. Menepati janji pada anak ternyata bukan sekadar tentang bermain; ini adalah tentang menjaga kepercayaannya bahwa kata-kata orang tuanya bisa dipegang.

Sore ini kami pulang dari Kidszilla, Mall Jambu Dua dengan kaki pegal, tapi hati terasa penuh. Ternyata, yang bahagia hari ini bukan cuma si kecil, tapi juga sisi anak-anak di dalam diri gue yang ikut "sembuh" melihat tawanya.

Jujur, ada alasan sederhana kenapa gue akhirnya melabuhkan pilihan ke Kidszilla, Mall Jambu Dua untuk melunasi janji hari ini. Selain karena wahananya yang beragam dan bikin si kecil betah, suasananya juga lebih tenang dan tidak terlalu padat. Sementara gue bisa mengawasinya dengan santai tanpa perlu sikut-sikutan dengan pengunjung lain. Kadang, kenyamanan orang tua dalam mengawasi itu sama pentingnya dengan kegembiraan anak saat bermain.

Hutang waktu hari ini: Lunas

Sedikit cuplikan waktu si kecil lagi di dunianya sendiri. Seru banget ternyata!

Bermain pasir plastik Bermain mandi bola Belanja di supermarket Menyusun rumah dengan bata busa si kakak sedang bergaya suasana di wahana bermain
Terpaksa Botak, Assuudahlah!

Terpaksa Botak, Assuudahlah!

Botaak

Botaaak

Botaaak

Kata-kata itu yang selalu terngiang dalam kepala gue saat ini. Gue paling trauma kalau mesti rambut gue dibotakin, rasanya harga diri gue terampas dan minder untuk bersosialisasi dengan orang lain. Lebay ya?, tapi nyatanya gue ngerasa seperti itu loh.

Terus kenapa sekarang malah dibotakin?

Salah satu persyaratan untuk mengikuti pelatihan di Cevest Bekasi yaitu rambut harus dipotong maksimal ketebalan 1 cm dan itu menurut gue sudah masuk kategori botak. Jadi tau kan alasannya kenapa rambut gue mesti dibotakin walapun gue sendiri gak suka banget?, jawabannya ada pada kata pertama dari judul di atas, yups T E R P A K S A.

Terhitung sudah tiga kali rambut gue dibotakin dan itu semua karena terpaksa. Pertama kali rambut gue dibotakin yaitu pas masuk SMA. Awal masuk SMA biasanya harus mengikuti MOS terlebih dahulu dan untuk lelaki rambutnya harus dibotakin. Yang kedua ketika masuk perguruan tinggi, hampir sama seperti awal masuk SMA, kita mesti mengikuti OSPEK dahulu dan untuk lelaki rambut harus dibotakin juga, dan yang ketiga saat mengikut pelatihan di Cevest Bekasi saat ini. Semuanya karena terpaksa.

Bagi gue rambut amat berharga untuk penampilan gue karena setelah gue berkaca dengan potongan rambut botak seperti ini gue merasa diri gue bagaikan sebuah pin bowling, kepala kecil badan besar bulat. Mending kalau terlihat gemes tapi ini malah terlihat iiyyuuh banget deh.

Selain rasa percaya diri gue jadi menciut rambut botak ini membuat ketamvanan gue menjadi pudar seketika, padahal sebelum rambut gue botakin, ketamvanan gue tuh 11 12 sama Taehyung tau, kalian percaya gak? *ya tentu tidaaaak! #pedeGila. Mungkin gue mirip Taenya aja kali ya?. Hehehe

Terkadang gue menghayal, andai saja kalau gue keturunan bangsa saiyan, mungkin akan mudah mengatasi rambut gue yang botak ini agar tumbuh lebat kembali secara instan hanya dengan memasang kuda-kuda dan mengepalkan kedua tangan lalu berteriak dengan rasa amarah yang meledak-ledak, seketika rambut gue yang botak berubah menjadi panjang kek son goku yang berubah jadi super saiya 3. Tapi naas itu semua hanya khayalan doang, hanya imajinasi semata *Ngimpi!.

Namun ada momen dimana gue merasa ngenes banget karena berambut botak seperti ini. Gue merasa terpuruk banget setelah mendengar kata-kata dari keponakan gue yang masih kecil. Kata-katanya itu ialah

"A isan kunaon dibotakan kitu? Keueung nyaho a nempona okos buronan"

Artinya: mas isan kenapa dibotakin gitu? Serem tau mas liatnya kaya buronan.

"Kaya BURONAN?"

JLEB!

Seketika dada gue merasa sakit seperti tertusuk duri ikan. Ikan paus!. Yang ngomong gitu anak kecil loh, yang dimana anak kecil itu ngomongnya sesuai kenyataan, engga bohong. Aduh merintih hatiku dikatain kek gitu sama bocah.

Gue pun berambisi kalau gue gak boleh seperti ini terus, kalau hanya menunggu rambut tumbuh dengan sendirinya itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan setelah dianggap seperti seorang buronan oleh bocah cilik terus gue mesti diam saja begitu? Tidak Roma!, gue harus bisa menumbuhkan rambut gue lebih cepat dari biasanya.

Gue pun coba searching di mbah google dengan keyword "cara menumbuhkan rambut kepala dengan cepat", hasilnya banyak banget artikel yg muncul sampai-sampai gue bingung mau ikutin dengan cara yang mana. Akhirnya gue coba nanya ke temen gue yang di asrama, dan dia menyarankan agar gue menggunakan shampo metal.

"Hah, shampo metal? Emang ada?", tanya gue sama teman yang seasrama.

"Ada tau san, dan itu emang buat manjangin rambut kepala", jawab temen gue.

"Ah becanda kali lu, terus nanti setelah shampoan gue angguk-anggukin kepala nanti tiba-tiba rambut gue jadi panjang dan lebat gitu?", masih bertanya dengan nada engga yakin.

"Ya engga gitu juga pea, tumbuh rambutnya berproses tapi lebih cepat dari biasanya", jawab teman gue dengan tegas

"Hhmm emang belinya dimana tuh?", tanya gue yang udah mulai percaya.

"Kayanya di indomaret ada deh. Nanti cek aja dulu kesana"

"Yaudah nanti malem anterin ya", pinta gue

"Oke"

Karena rasa penasaran dengan shampo ajaib ini, malamnya gue minta anter sama teman gue yang menyarankan shampo metal itu untuk ke indomaret.

Setelah sampai di indomaret, gue coba nyari shampo metal itu dibagian shampo dan sabun mandi. "Nah ini dia", akhirnya gue nemuin shampo metal ini, kalau dilihat dari bungkusnya sih kaya yang engga meyakinkan ya, tapi okelah gue coba dulu aja. Akhirnya gue beli tuh shampo metalnya. Seperti ini nih penampakan shamponya 👇.

Keesokan paginya waktu mandi gue coba pake shampo metalnya. Ya gue sih berharap dengan mengguanakan shampo metal ini rambut kepala gue beneran bisa tumbuh dengan cepat. Semoga ya dan tolong doakan saya 🙏.

Memang sih punya rambut botak bikin gue ilfill tapi kalau difikir lagi dari sisi positifnya gue mengapresiasi diri gue sendiri dengan sebutan "pemberani". Bagaimana tidak, gue melakukan hal yang gue takutkan, hal yang gak gue suka untuk mancapai tujuan yang gue inginkan. Pemberani gak tuh?. Ya itung-itung melatih mental gue biar kuat dari cibiran para netizen. *Semua pembaca standing aplause

Waktu yang Salah (Part 1)

Waktu yang Salah (Part 1)

Siang itu hujan turun begitu deras. Seorang lelaki duduk di atas kasurnya yang empuk, memandang ke arah jendela sambil mengepalkan kedua tangannya, menahan air mata yang perlahan jatuh membasahi pipinya. Isak tangis Ulil nyaris tak terdengar, tersamar oleh riuhnya angin yang menyambut hujan. Sekuat apa pun seorang lelaki terlihat tegar, hatinya tetap bisa rapuh ketika tersakiti.

Ulil baru saja berpisah dengan kekasihnya. Bertahun-tahun mereka menjalin hubungan, bahkan sempat berniat melangkah ke jenjang yang lebih serius, namun semua itu harus berakhir begitu saja—seperti kemarau panjang yang sirna oleh hujan sehari. Tak ada yang menyangka hubungan mereka akan berakhir setiba-tiba ini. Teman-teman maupun orang tua Ulil pun masih sulit percaya. Kini, dengan berat hati, Ulil harus merelakan kepergian orang yang selama ini menempati ruang paling istimewa di hatinya.

Sahabat-sahabat Ulil yang mendengar kabar itu tidak tinggal diam. Mereka segera datang menemuinya, mencoba menghibur, sekadar mengingatkan bahwa Ulil tidak sendirian—masih ada mereka yang setia menemani, baik dalam suka maupun duka. Yang datang sore itu adalah Supri dan Adi.

"Sudahlah, Lil, jangan terlalu larut dalam kesedihan," ucap Supri sambil menepuk pelan pundak Ulil. "Yang penting kamu sudah memberikan yang terbaik. Soal dia yang berkhianat, biar waktu yang membalas."

"Iya, Lil. Lagipula masih banyak perempuan baik di luar sana," sambung Adi menimpali. "Jangan berkecil hati, pasti ada yang lebih baik untukmu nanti."

"Oh iya, kemarin aku sempat mengobrol dengan adik kelas kita di Messenger," lanjut Adi. "Yang dulu suka sama kamu, masih ingat?"

"Siapa? Dea, bukan?" tanya Ulil pelan.

"Iya, Dea. Sekarang dia sudah berubah banyak, tambah cantik. Coba saja kamu dekati lagi," jawab Adi.

"Nanti aku mintakan nomor WhatsApp-nya, biar kukirim ke kamu," sambung Adi lagi.

Ulil tahu, sahabat-sahabatnya hanya ingin menghiburnya dengan cara mereka sendiri. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Luka yang dirasakan Ulil bukan luka biasa yang bisa sembuh hanya dengan kata-kata penghibur.

Beberapa minggu berlalu. Kini Ulil hanya ditemani sepi. Ponsel yang dulu selalu ramai oleh notifikasi dari kekasihnya kini seperti rumah kosong tak berpenghuni. Dalam kesendirian itu, Ulil teringat kembali pada tawaran Adi. Tanpa berpikir panjang, ia pun menghubungi sahabatnya itu untuk meminta nomor Dea. Tidak lama, Adi membalas.

"Penasaran juga ternyata," canda Adi lewat pesan.

"Ini nomornya. Kalau ada kesempatan, jangan disia-siakan ya," lanjut Adi.

"Baik, terima kasih banyak," balas Ulil singkat.

Ulil tidak ingin terus terjebak dalam kesedihan masa lalu. Ia ingin membuka lembaran baru, meski dengan hati yang masih menyimpan luka. Mungkin, dengan begitu, ia bisa merasa hidup kembali. Setelah menarik napas panjang, ia pun memberanikan diri mengirim pesan pertama kepada Dea, adik kelasnya dulu.

"Halo, De. Apa kabar?"

Satu menit berlalu. Lima menit berlalu. Ulil masih menatap layar ponselnya, berharap balasan datang secepat mungkin. Namun Dea belum juga membalas.

Lima belas menit kemudian, terdengar suara notifikasi. Dengan sigap Ulil membuka pesan itu—benar, balasan dari Dea.

"Maaf, ini siapa, ya?" tulis Dea.

"Ini aku, Ulil, kakak kelasmu waktu SMA," balas Ulil.

"Oh, Kak Ulil. Alhamdulillah kabar aku baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana?" jawab Dea.

Percakapan mereka pun mengalir. Hari itu, ponsel Ulil kembali ramai oleh notifikasi dari Dea. Tanpa disadari, untuk sesaat ia mulai bisa melupakan masa lalunya.

Hari demi hari berlalu, kedekatan mereka semakin terasa meski hanya lewat pesan. Hingga akhirnya Ulil memberanikan diri mengajak Dea bertemu langsung. Tanpa menunggu lama, Dea pun menyetujuinya. Mereka pun menentukan waktu dan tempat.

Hari yang dinanti tiba. Pukul setengah empat sore, Ulil bersiap-siap dengan hati yang dipenuhi kegembiraan. Sebelum pulang kerja, ia merapikan meja kantornya sambil tersenyum kecil. Pukul empat, ia bergegas menuju tempat pertemuan, sambil menyusun beberapa pertanyaan di sepanjang jalan sebagai bahan obrolan nanti.

Setelah setengah jam perjalanan dengan sepeda motor, Ulil pun tiba. Ia memilih meja yang nyaman untuk mereka berdua, lalu mengirim pesan kepada Dea, "De, aku sudah sampai." Namun tidak ada balasan. Ulil menduga Dea masih dalam perjalanan.

Setengah jam berlalu, Dea belum juga datang. Dalam hati Ulil bertanya-tanya, apakah Dea lupa, atau berubah pikiran. Rasa cemas mulai muncul.

Tak lama kemudian, seorang perempuan berpakaian serba hijau datang mengendarai motor Honda Scoopy, memasuki area parkir.

"Apakah itu Dea?" batin Ulil bertanya.

Perempuan itu berjalan pelan mendekat. Benar, itu Dea—perempuan yang sudah ditunggunya sejak tadi. Setiap langkahnya membuat jantung Ulil berdebar semakin cepat. Waktu seolah melambat; senyum tipis di bibirnya, langkah kakinya yang lembut, hembusan angin yang membelai jilbab dan pakaiannya, serta wangi parfum yang menenangkan—semua terasa seperti adegan dari sebuah film yang sering ia tonton.

Dea duduk di hadapan Ulil.

"Halo, Kak Ulil. Sudah lama menunggu, ya? Maaf, tadi aku kena macet di jalan," ucap Dea.

Dalam hati Ulil hanya bisa berkata, "Cantik sekali." Ia tak mampu mengalihkan pandangan dari wajah Dea yang kini begitu berbeda.

"Tidak apa-apa, kok, De. Yang penting sekarang kamu sudah di sini," jawab Ulil.

Dea memang sudah banyak berubah. Dulu ia perempuan yang sederhana dan biasa saja, kini tampil begitu anggun dan modis. Sementara Ulil, dari dulu hingga sekarang, penampilannya tetap sama—kemeja lusuh, rambut berantakan, sepatu yang solnya mulai lepas. Ulil memang selalu tak terlalu memedulikan penampilan.

"Kak Ulil sudah pesan makan belum?"

"Belum, De. Kakak tunggu kamu dulu, biar bisa pesan bareng."

"Ayo kita pesan sekarang."

"Ayo."

Mereka pun memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, Ulil mulai membuka obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkannya. Ia selalu merasa terpesona setiap kali Dea berbicara—cara bicaranya yang lembut dan tertata membuat Ulil betah menjadi pendengar.

Dea memang sudah jauh berbeda. Dulu, setiap kali diajak bicara, ia selalu tersipu dan tak berani menatap lama, bahkan bicaranya sering terbata-bata. Kini, setiap kali Ulil berbicara, Dea menatapnya dengan tenang, dan kata-katanya mengalir rapi. Kali ini, gantian Ulil yang merasa canggung di hadapannya.

Namun di tengah obrolan yang hangat itu, tanpa sengaja Ulil memperhatikan tangan kanan Dea. Ada sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Dengan hati-hati, Ulil memberanikan diri bertanya.

"De, kamu... sudah ada yang punya, ya?"

"Maksudnya bagaimana, Kak?"

"Itu," ucap Ulil sambil menunjuk cincin di jari Dea.

"Oh, ini? Iya, Kak. Aku sudah bertunangan."

Seketika hati Ulil terasa sesak. Ia menelan ludah pelan, mencoba menyembunyikan kekecewaan yang tiba-tiba muncul. Dalam hati ia hanya bisa bertanya-tanya, lelaki mana yang beruntung mendapatkan hati Dea.

Selera makannya mendadak hilang. Ia menyalahkan dirinya sendiri—kenapa dulu ia tak pernah benar-benar melihat Dea, dan kini penyesalan itu datang ketika semuanya sudah terlambat. Memang begitulah penyesalan, selalu datang di akhir.

"Wah, selamat, ya, De. Jangan lupa undang Kakak nanti di hari bahagiamu."

"Siap, Kak. Pasti aku undang."

Mereka melanjutkan makan sambil berbincang ringan. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam—saatnya mereka mengakhiri pertemuan itu. Dengan hati yang berat, Ulil harus berpisah dengan Dea. Entah apakah mereka akan bertemu lagi setelah ini. Ulil memilih untuk tidak berharap terlalu banyak, terlebih setelah mengetahui bahwa Dea telah memiliki seseorang yang menunggunya. Mendekati hati yang sudah terikat, baginya, hanya akan menjadi luka baru yang lain.

Mereka pun berpisah, melaju dengan sepeda motor masing-masing, membawa cerita dan perasaan yang mungkin tak akan pernah terucap.
Kuy Puasa

Kuy Puasa

L apa R alias Lapar, yaps dibulan ini tentunya gue lebih sering merasakan kelaparan dibanding bulan-bulan lainnya, itu dikarenakan bulan April 2021 ini bertepatan dengan bulan Ramadhan yang dimana orang yang beragama islam berpuasa selama satu bulan lamanya. Dengan begitu gue harus menahan rasa haus dan lapar, namun bukan hanya itu saja, saat berpuasa pun kita harus menahan rasa amarah juga syahwat.

Selain dari kata lapar, L apa R pun menjadi dua buah pilihan yang harus gue pilih disaat bulan puasa ini.

Left or Right?

ya, ibaratnya gue harus menentukan pilihan ke kiri atau ke kanan, maksudnya gue harus berpuasa atau tidak. Mungkin jawabannya "Iya Harus", "WAJIB!", karena gue masih sehat jasmani juga sehat akal (tidak gila) namun bisa juga jawabannya "Tidak Harus" walau jasmani dan akalnya sehat (tidak gila), kenapa begitu?, karena tidak semua orang muslim mau berpuasa.

Contohnya seperti rekan kerja gue, mungkin dia salah satu golongan yang menjawab bahwa puasa itu tidak wajib untuknya. Buktinya, saat baru sampai di kantor dia langsung mencari tempat aman untuk ngopi juga merokok, dan di waktu istirahat dia pun makan siang bersama temannya. Semua kembali lagi pada orangnya masing-masing. Mau atau tidak?. Sebenarnya berpuasa di bulan Ramadhan sangat banyak manfaatnya bagi kesehatan tubuh kita seperti:

Menurunkan berat badan - Dengan berpuasa dalam jangka waktu tertentu dapat meningkatkan metabolisme dengan meningkatkan kadar neurotransmitter norepinefrin, yang dapat membantu menurunkan berat badan.

Mengontrol gula darah - puasa dapat meningkatkan kontrol gula darah yang sangat berguna bagi penderita diabetes karena pembatasan asupan kalori dalam tubuh saat seseorang berpuasa juga dapat mengurangi resistensi insulin.

Meningkatkan kesehatan jantung - Beberapa penelitian menemukan bahwa puasa bisa sangat bermanfaat untuk kesehatan jantung. Sebab, puasa dapat membantu menurunkan tekanan darah, trigliserida, dan kadar kolesterol jahat dalam tubuh.

Dan masih banyak lagi manfaat berpuasa untuk kesehatan tubuh kita. Selain itu dengan berpuasa, secara tidak langsung melatih kita untuk selalu bersabar dan mensyukuri nikmat yang kita miliki. Bukankah sebelum bulan Ramadhan kita dapat bebas untuk memakan makanan yang kita inginkan, meneguk berbagai macam minuman yang menyegarkan? namun tidak berlaku untuk saudara kita di luar sana yang harus mengemis di persimpangan jalan, menari-nari dengan kostum kartun demi sesuap nasi.

Bahkan dengan kita berpuasa dapat menghapus dosa dan melipatgandakan ibadah yang kita kerjakan. Kurang apalagi?

Sepadan kah dengan makananan dan minuman yang kalian nikmati demi tidak mau menahan rasa haus dan lapar sehingga tidak berpuasa?. Beda jauh boss!

Kuy puasa, mumpung kita masih ada umur dan masih sanggup untuk berpuasa.

Food photo created by nakaridore - www.freepik.com
Kameramen Tawuran

Kameramen Tawuran

Siang itu di ruang smoking area kantor tempat gue bekerja terdapat empat orang yang sedang makan siang, mereka berempat mengenakan seragam sekolah, tentu saja mereka adalah anak sekolahan yang sedang prakerin. Ketika melihat mereka sedang makan siang seketika gue bernostalgia dengan masa sekolah dulu.

Ah... rasanya gue kangen dengan masa putih abu-abu. Banyak kenangan didalamnya, namun dari sekian banyaknya kenangan dimasa sekolah entah kenapa kenangan yang menegangkan plus lucu yang muncul diingatan gue. kenangan itu adalah ketika gue menjadi kameramen tawuran. Yaps! ketika sekumpulan orang tengah menggenggam senjata tajam saat akan tawuran malah gue sendirian yang menggenggam handphone untuk merekam kejadian tersebut. Rasanya kalau mengingat kejadian tersebut gue merasa bego banget!.

Kejadiannya kira-kira ketika gue masih kelas 1 SMK, waktu itu gue sedang berkumpul di rumah teman sekampung gue, teman gue ini namanya Atam. Saat asik mengobrol dengan Atam tiba-tiba datang beberapa orang yang tidak dikenal, ternyata meraka adalah teman sekolahnya Atam, maklum kalau gue engga mengenal mereka karena Atam dan gue berbeda sekolah.

Atam dan temannya pun berkumpul sembari membicarakan sesuatu yang penting, beberapa dari mereka ada yang berbicara dengan nada yang keras, karena penasaran gue pun mendekat dan ikut mendengarkan dalam pembicaraan tersebut. Setelah mendengarkan cukup lama gue pun paham ternyata mereka sedang membicarakan tentang tawuran dengan sekolahan lain dan sialnya karena gue turut mendengarkan dalam pembicaraan tersebut, Atam mengajak gue untuk ikut serta dalam tawuran tersebut.

"MAMPUS! kenapa gue jadi kebawa-bawa", kata gue dalam hati.

"Lah kenapa gue jadi ikut-ikutan tam?, kaga mau ah!", tolak gue.

"ayolah san bantu temen napa, masa gak mau bantu", jawab Atam.

"Gue belum pernah ikut tawuran tam, masih pengen hidup gue, belum nikah pula!".

"Gue gak nyuruh lu buat ikutan tawuran, cuma minta tolong videoin gue pas lagi tawuran, tapi posisi lu paling depan sebelah kanan gue".

"Eh udah gila lu ya?, udah posisi gue paling depan cuma megang HP doang pula, masih mendingan lu bawa gear jadi ada pertahanan kalau diserang, sedangkan gue bisa langsung mampus!".

"Nyantai aja san, kalau bagian ngevideoin engga akan diserang".

"Biji lu engga akan diserang!, jelas-jelas musuh kan tau kalau gue ada dipihak lu".

"Udah tenang aja, nanti gue yang ngomong sama pentolan sekolah musuh kalau lu gak ikut tawuran, cuma buat ngevideion doang".

"Lah bisa gitu."

Karena gue orangnya baik hati dan tidak sombong, juga rajin menabung, akhirnya gue mengabulkan permintaan Atam. #Amsyong.

Setelah gue setuju, Atam dan teman-temannya mulai memasang strategi dan posisi, by the way posisi Atam disini sebagai pentolan sekolahnya. Tawuran pun disepakati oleh kedua belah pihak pada jam 2 malam hari ini, bertempat di jalan raya perumahan dekat kampung gue. Lalu Atam pun nyuruh gue buat keluarin semua peralatan tawuran yang dititipin ke gue. Semua alat tawuran gue keluarin, mulai dari gear yang diikat sabuk taekwondo, cerulit, samurai, hairdryer, voucher pulsa, sampai bumbu indomie 🤣. Bisa dibilang gue ini penadah peralatan tawurannya Atam, jadi kalau dia punya alat tawuran yang baru pasti dititipin ke gue.

Sudah pukul setengah dua malam, kita semua sudah berkumpul di rumahnya Atam, kurang lebih ada 12 orang yang ikut berpartisipasi dalam mempertahankan kekuatan dan mengharumkan nama sekolahannya dalam bidang tawuran. Sambil prepare peralatan tawuran pun mulai di distribusikan ke semua orang yang hadir, ada yang dapat cerulit, gear, samurai juga ada yang dapat bumbu indomie 🤣. Dan hanya gue seorang yang megang HP, Gleek!.

Semua senjata sudah di distribusikan, mental pun sudah dikukuhkan. "Sebelum memulai pertempuran, mari kita berdoa agar kita dimenangkan dalam pertempuran malam ini, berdoa dimulai", ucap si Atam sebelum berangkat ke medan pertempuran. Kita pun berjalan bersamaan, memasang wajah garang dengan gaya layaknya sang jagoan seperti dalam film crows zero, berteriak-teriak entah nama siapa yang disebut.

GEENJIII!.... SERIZAWAAAA!.... MARIA OZAWAAA!.... KIMOCHIIII!

Tidak lama kita sampai ditempat pertempuran, malam itu jalanan sangat sepi sekali, semua bersiap dan menempati posisi masing-masing, sementara pasukan musuh sudah mulai terlihat dari kejauhan jalan.

Dibaris paling depan, sebelah kanan ada gue yang siap buat ngerekam pertempuran, sebelah kiri gue ada Atam yang sedang memutar-mutarkan gear, disebelah kiri Atam ada si Cokel tengah duduk sambil memutar-mutakkan gear dan disebelah Cokel ada si Oay yang siap dengan bambu panjang ditangannya. Musuh pun sudah menempati posisinya masing-masing. Ketika hitungan waktu mundur diteriakan tanda akan dimulainya pertempuran, Cokel yang awalnya sedang duduk mulai beranjak berdiri, namun ketika Cokel sudah berdiri tiba-tiba terjadi suatu kecelakan

BLETAAK!!!

Kepala Cokel bercucuran darah, terkena tebasan gear yang sedang diputar-putar oleh Atam karena posisi Cokel terlalu dekat dengan Atam. Tanpa berfikir panjang Cokel pun langsung berpindah posisi kebagian belakang.

Pertempuran pun dimulai

Atam berlari paling depan, disusul oleh Oay dan gue yang sudah mulai merekam pertempuran. Dengan perasaan was-was dan takut akan terkena serangan musuh gue tetap coba beranikan diri untuk merekam.

Kun Fayakun-lah pokoknya

Gear Atam yang diayunkan berbenturan dengan gear lawan, dari benturan itu keluar percikan api. Berkali-kali gear itu saling beradu, sedangkan Oay harus berhadapan dengan musuh yang bersenjatakan cerulit. Oay yang perawakannya kekar dapat dengan mudah mengayunkan bambu yang panjang, sehingga cerulit digenggaman lawan dapat terlepas. Lawan yang kehilangan cerulitnya terpaksa harus mundur kebelakang. Oay pun mengambil cerulit lawan yang terlepas.

Diposisi Atam, gear yang awalnya saling beradu sekarang saling melilit, Atam dan lawannya saling tarik menarik tali gear yang melilit. Lawan yang lebih kuat dan lebih cepat menarik tali gear membuat Atam jatuh tersungkur kedapan, dengan sigap lawan langsung mendekati Atam dan melayangkan gear tepat ke bagian kepala Atam.

BLETAAK!!!

Atam masih dalam keadaan tersungkur, gear yang dilayangkan musuh ke kepala Atam terbentur dengan bambu panjangnya Oay. Beruntung Oay cepat menyadari posisi Atam yang sedang terdesak. Oay pun memutar-mutar bambu yang dia pegang sehingga tali gear musuh melilit dibambunya, lalu dengan keras Oay menarik bambunya, untuk kedua kalinya Oay berhasil mengambil senjata lawan. Lawan pun mundur kebelakang. Oay membantu Atam berdiri dan kita bertiga mundur kebelakang untuk merapikan posisi masing-masing.

Saat gue lagi berjalan kebelakang tiba-tiba ada gear melayang dari kudu lawan ke arah gue. Gue pun kaget dan untungnya bisa menghindari gear tersebut. Gue teriak ke pihak lawan.

"WOOII ANJING!, GUE KAGA IKUTAN, GUE CUMA NGEREKAM DOANG!", marah gue.

"Eh sorry-sorry gue engga tau", jawab pihak lawan.

Setelah kedua kubu bersiap-siap, lalu mulai saling menyerang lagi. Kini pertempuran semakin sengit, gue pun semakin fokus merekam sambil mengawasi situasi sekitar, takutnya ada serangan nyasar lagi ke arah gue.

BLENTRANG!

TAK!

TAK!

JEBRET!

Semua senjata saling beradu. Beberapa dari pihak musuh ada yang terkena tebasan senjata tajam, begitu juga dengan pihak Atam. Kendaraan yang melaju ke arah pertempuran pun harus memutar balik agar tidak ikut terkena serangan. Setelah cukup lama pertempuran berlangsung, tiba-tiba dari barisan belakang lawan berlari sambil berteriak.

"KABUUR...KABUUR, ADA BANYAK WARGA DI BELAKANG"

Pertempuran terhenti sesaat, pandangan semua orang fokus ke arah datangnya warga, dari kejauhan jalan ternyata ada banyak warga yang datang untuk membubarkan tawuran. Seketika kita lari berhamburan, dalam situasi seperti itu tidak ada kawan maupun lawan yang terpenting selamatkan diri masing-masing.

Tepat disamping kanan gue ada gang yang menuju ke komplek perumahan deket kampung gue. Karena gue tau jalan tersebut, tanpa memperdulikan yang lain gue langsung lari masuk ke gang. Berlari terus masuk ke dalam komplek perumahan, ambil jalan pintas agar tidak terkejar oleh warga, beberapa teman ada yang mengikuti gue. Gue dan teman-temen yang kabur searah dengan gue berhenti dan bersembunyi di depan warung sayur yang sudah tutup.

Sekiranya situasi sudah merasa aman gue ngajak temen-temen yang dibelakang gue buat balik ke rumah, pas gue lagi melihat ke arah mereka dan mengajak pulang, sontak gue langsung merasa kaget, jantung pun berdebar kencang, ternyata yang lari kabur bersama gue bukan temen gue melainkan musuh tawuran Gue.

"MAMPUUUUSSS, MATI DIKEROYOK DAH GUE!", ucap gue dalam hati.

Mereka semua menatap ke arah gue. Gue pun menatap ke arah mereka sambil memikirkan cara agar bisa pulang dengan selamat. Sekujur badan gue terasa membatu melihat mereka semua yang tengah menatap gue dengan senjata tajam ditangannya, ada yang memegang cerulit, samurai, dan gear. Harus memikirkan cara terbaik agar bisa terlepas dari mereka. Salah ucap sedikit bisa pindah ke akherat gue.

Akhirnya terfikirkan cara agar terlepas dari mereka.

"Bro untuk sekarang kita kesampingkan dulu nih tawuran kita, sekarang yang terpenting kita engga ketangkep sama warga dan bisa pulang dengan selamat", ucap gue ke mereka.

"Iya bang setuju", serentak mereka menjawab.

"Laah langsung setuju, ampuh juga bujukan gue, xixixi", gumam dalam hati.

"Yaudah kalian pada balik gih".

"Kita engga tau bang jalan keluar dari sini"

"Kalian jalan aja terus ke jalan yang arah sini, nanti keluar-keluar di jalan besar", arahan Gue ke mereka.

"Eh tapi kalian jalannya jangan barengan semua, bertiga-tiga aja, terus itu senjatanya simpen dulu aja di bawah keranjang sayur biar engga ketauan kalau pas-pasan sama warga", sambung gue.

Entah mereka yang polos atau sedang merasa takut, semua ucapan gue diikutin oleh mereka semua. Semua senjata dikumpulkan dan disimpan di bawah keranjang sayur, mereka pun mulai pergi bertiga-tiga, setelah mereka bertiga dirasa sudah berjalan cukup jauh, lalu disusul oleh ketiga temennya yang lain dan begitu seterusnya sampai mereka semua pergi.

Akhirnya gue bisa bernafas lega dan merasa aman. Gue yang tidak melewatkan kesempatan, langsung mengambil semua senjata tajam yang mereka simpan di bawah keranjang sayur, dengan cepat gue langsung pergi ke jalan yang berlawanan dengan mereka, jalan pulang ke arah rumah gue.

Keesokan harinya, kita berkumpul kembali dirumah Atam, alhamdulilahnya engga ada dari pihak kita yang tertangkap oleh warga. Sambil menunjukkan hasil jarahan senjata tajam semalem, gue menceritakan kejadian dari mulai kabur dikejar warga sampai bisa dapat senjata tajam sebanyak ini. Atam dan temen-temannya yang sedang mendengar cerita gue seketika semuanya tertawa ngakak sejadi-jadinya. Mereka menganggap kejadian yang gue alami semalem itu lucu, padahal kan dimomen itu nyawa gue dipertaruhkan. Bangke banget emang mereka semua.

Gue kapok ikut tawuran lagi, mau nanti diminta jadi kameramen kek, jadi hakim garis kek, jadi panitia penyelenggara kek, pokoknya engga mau lagi gue ikut-ikutan tawuran. Kapok sekapok-kapoknya.