Kalau Ada 3 Permintaan Ajaib, Kalian Bakal Minta Apa?

Kalau Ada 3 Permintaan Ajaib, Kalian Bakal Minta Apa?

Kalau Ada 3 Permintaan Ajaib, Kalian Bakal Minta Apa?

Pernah nggak sih, lagi bengong sore-sore terus tiba-tiba kepikiran hal yang agak "halu" tapi seru? Kayak misalnya, tiba-tiba ada keajaiban yang datang dan nawarin kita tiga permintaan gratis. Bukan buat jadi pahlawan super yang terbang ke luar angkasa, tapi lebih ke hal-hal yang bikin hidup terasa lebih ringan dan bermakna.

Setelah merenung (dan sedikit menghayal), kalau kesempatan itu beneran ada di depan mata, inilah tiga hal yang bakal langsung gue sebut tanpa pikir panjang:

1. Jentikan Jari "Sultan" (Sekali Petik, Muncul Rp. 50 Juta)

Jujur saja, kita semua pasti punya daftar "keinginan tertunda" karena saldo yang belum mencukupi. Bayangkan kalau tiap kali kita butuh—entah itu buat bayar cicilan yang mepet, bantu renovasi rumah orang tua, atau sekadar pengen jajan tanpa liat harga—kita tinggal memetikkan jari dan cling! ada uang Rp50 juta di depan mata. Rasanya bukan soal pengen jadi orang paling kaya sedunia, tapi lebih ke perasaan tenang karena tahu "semua bakal baik-baik saja" secara finansial.

2. Tangan yang Menyembuhkan Segala Penyakit

Melihat orang tersayang sakit itu rasanya jauh lebih berat daripada sakit itu sendiri. Makanya, permintaan kedua gue adalah kemampuan untuk menyembuhkan segala penyakit, baik itu yang medis maupun non-medis. Bayangkan betapa leganya bisa menghilangkan rasa sakit seseorang hanya dengan sentuhan tangan. Bisa melihat senyum orang-orang yang tadinya putus asa karena penyakitnya, rasanya bakal jadi "kekayaan" yang jauh lebih mahal daripada uang mana pun.

3. Teleportasi: Bye-Bye Macet dan Tiket Mahal!

Siapa sih yang nggak capek sama macet atau perjalanan jauh yang menguras tenaga? Dengan kemampuan teleportasi, dunia berasa jadi kayak halaman rumah sendiri. Mau sarapan di Paris, makan siang di Padang, terus sorenya sudah santai lagi di kamar sendiri? Bisa banget! Selain hemat ongkos dan waktu, kemampuan ini bakal bikin kita punya lebih banyak waktu buat orang-orang yang kita sayang tanpa terhalang jarak.

Tiga permintaan tadi emang kedengarannya kayak mimpi di siang bolong, ya? Tapi dari "kehaluan" ini, gue jadi sadar satu hal: ternyata yang kita butuhin itu simpel banget. Kita cuma pengen rasa aman secara finansial, pengen orang-orang yang kita sayang selalu sehat, dan pengen punya waktu lebih banyak tanpa habis di jalan.

Meskipun jentikan jari belum bisa ngeluarin uang dan kita belum bisa teleportasi buat menghindari macetnya Senin pagi, setidaknya kita masih punya doa dan usaha yang bisa kita lakuin pelan-pelan.

Nah, sekarang giliran kamu yang berbagi. Kalau seandainya jin di lampu aladin beneran muncul di depanmu hari ini, 3 permintaan apa yang bakal kamu sebutin? Tulis di kolom komentar ya! Siapa tahu dengan ditulis di sini, impian kamu jadi lebih dekat buat jadi kenyataan. Sampai ketemu di obrolan berikutnya!

Melunasi Hutang Waktu: Tentang Janji Kecil di Hari Minggu

Melunasi Hutang Waktu: Tentang Janji Kecil di Hari Minggu

Melunasi Hutang Waktu: Tentang Janji Kecil di Hari Minggu

Bagi kita orang dewasa, kata "nanti" sering kali hanyalah cara praktis untuk menunda rengekan di tengah tumpukan pekerjaan atau rasa lelah yang menghimpit. Namun, bagi sepasang mata kecil yang menatap kita dengan penuh harap, "nanti" adalah sebuah janji suci yang dicatat lekat-lekat dalam ingatannya. Hari ini, gue memutuskan untuk melunasi hutang itu di Kidszilla, Mall Jambu Dua. Bukan karena tempatnya yang mewah, tapi karena gue tidak ingin menjadi orang pertama yang mengajarkan dia arti patah hati karena sebuah janji yang diingkari.

Tepat pukul sepuluh pagi, rumah mulai terasa sibuk dengan energi yang berbeda. Si kecil sudah sigap dengan jaketnya, duduk di depan pintu sambil berusaha memakai sepatunya sendiri dengan penuh semangat. Di kamar, Ibunya masih telaten memastikan padu padan baju dan celana agar ia tampil nyaman sekaligus rapi, Sementara itu, gue sudah jadi 'tim sorak' di luar sambil memanaskan motor. Setelah semua 'pasukan' lengkap, kami pun tancap gas dengan hati yang ringan.

Sesampainya di tempat wahana bermain, begitu kaki si kecil menyentuh karpet busa, ia seolah bertransformasi menjadi penjelajah kecil tanpa rasa takut. Ia berlari zigzag menghindari rintangan, lalu dengan napas memburu, memanjat jaring-jaring tali dengan jemari mungil yang mencengkeram kuat. Momen paling magis adalah saat ia meluncur bebas dari perosotan tertinggi dengan tawa lepas yang mengalahkan riuh musik di sana.

Tak berhenti di situ, ia segera menceburkan diri ke dalam lautan mandi bola. Di tengah ribuan bola plastik warna-warni itu, ia tampak begitu mungil namun sangat bahagia, seolah sedang berenang di samudera imajinasinya sendiri. Sesekali ia muncul ke permukaan, melempar bola ke udara dengan mata berbinar, lalu kembali 'tenggelam' dalam keriangan plastik yang bergemerincing.

Puas bergerak aktif, ia berpindah ke sudut yang lebih tenang: wahana pasir plastik. Dengan tekun, ia mengeruk butiran plastik halus yang menyerupai pasir itu menggunakan sekop kecil, mengisinya ke dalam ember, dan membangun 'istana' impiannya. Di sini, gue melihat sisi lainnya—seorang arsitek kecil yang penuh konsentrasi, jemarinya lincah memilah butiran plastik, menciptakan dunia mungilnya sendiri di tengah hiruk pikuk mall.

Di antara aroma pengharum ruangan dan gelak tawa si kecil, gue tersadar: bagi kita ini mungkin hanya satu atau dua jam yang melelahkan, tapi bagi dia, ini adalah momen ajaib di mana dunianya dihargai sepenuhnya. Menepati janji pada anak ternyata bukan sekadar tentang bermain; ini adalah tentang menjaga kepercayaannya bahwa kata-kata orang tuanya bisa dipegang.

Sore ini kami pulang dari Kidszilla, Mall Jambu Dua dengan kaki pegal, tapi hati terasa penuh. Ternyata, yang bahagia hari ini bukan cuma si kecil, tapi juga sisi anak-anak di dalam diri gue yang ikut "sembuh" melihat tawanya.

Jujur, ada alasan sederhana kenapa gue akhirnya melabuhkan pilihan ke Kidszilla, Mall Jambu Dua untuk melunasi janji hari ini. Selain karena wahananya yang beragam dan bikin si kecil betah, suasananya juga lebih tenang dan tidak terlalu padat. Sementara gue bisa mengawasinya dengan santai tanpa perlu sikut-sikutan dengan pengunjung lain. Kadang, kenyamanan orang tua dalam mengawasi itu sama pentingnya dengan kegembiraan anak saat bermain.

Hutang waktu hari ini: Lunas

Sedikit cuplikan waktu si kecil lagi di dunianya sendiri. Seru banget ternyata!

Bermain pasir plastik Bermain mandi bola Belanja di supermarket Menyusun rumah dengan bata busa si kakak sedang bergaya suasana di wahana bermain
Terpaksa Botak, Assuudahlah!

Terpaksa Botak, Assuudahlah!

Botaak

Botaaak

Botaaak

Kata-kata itu yang selalu terngiang dalam kepala gue saat ini. Gue paling trauma kalau mesti rambut gue dibotakin, rasanya harga diri gue terampas dan minder untuk bersosialisasi dengan orang lain. Lebay ya?, tapi nyatanya gue ngerasa seperti itu loh.

Terus kenapa sekarang malah dibotakin?

Salah satu persyaratan untuk mengikuti pelatihan di Cevest Bekasi yaitu rambut harus dipotong maksimal ketebalan 1 cm dan itu menurut gue sudah masuk kategori botak. Jadi tau kan alasannya kenapa rambut gue mesti dibotakin walapun gue sendiri gak suka banget?, jawabannya ada pada kata pertama dari judul di atas, yups T E R P A K S A.

Terhitung sudah tiga kali rambut gue dibotakin dan itu semua karena terpaksa. Pertama kali rambut gue dibotakin yaitu pas masuk SMA. Awal masuk SMA biasanya harus mengikuti MOS terlebih dahulu dan untuk lelaki rambutnya harus dibotakin. Yang kedua ketika masuk perguruan tinggi, hampir sama seperti awal masuk SMA, kita mesti mengikuti OSPEK dahulu dan untuk lelaki rambut harus dibotakin juga, dan yang ketiga saat mengikut pelatihan di Cevest Bekasi saat ini. Semuanya karena terpaksa.

Bagi gue rambut amat berharga untuk penampilan gue karena setelah gue berkaca dengan potongan rambut botak seperti ini gue merasa diri gue bagaikan sebuah pin bowling, kepala kecil badan besar bulat. Mending kalau terlihat gemes tapi ini malah terlihat iiyyuuh banget deh.

Selain rasa percaya diri gue jadi menciut rambut botak ini membuat ketamvanan gue menjadi pudar seketika, padahal sebelum rambut gue botakin, ketamvanan gue tuh 11 12 sama Taehyung tau, kalian percaya gak? *ya tentu tidaaaak! #pedeGila. Mungkin gue mirip Taenya aja kali ya?. Hehehe

Terkadang gue menghayal, andai saja kalau gue keturunan bangsa saiyan, mungkin akan mudah mengatasi rambut gue yang botak ini agar tumbuh lebat kembali secara instan hanya dengan memasang kuda-kuda dan mengepalkan kedua tangan lalu berteriak dengan rasa amarah yang meledak-ledak, seketika rambut gue yang botak berubah menjadi panjang kek son goku yang berubah jadi super saiya 3. Tapi naas itu semua hanya khayalan doang, hanya imajinasi semata *Ngimpi!.

Namun ada momen dimana gue merasa ngenes banget karena berambut botak seperti ini. Gue merasa terpuruk banget setelah mendengar kata-kata dari keponakan gue yang masih kecil. Kata-katanya itu ialah

"A isan kunaon dibotakan kitu? Keueung nyaho a nempona okos buronan"

Artinya: mas isan kenapa dibotakin gitu? Serem tau mas liatnya kaya buronan.

"Kaya BURONAN?"

JLEB!

Seketika dada gue merasa sakit seperti tertusuk duri ikan. Ikan paus!. Yang ngomong gitu anak kecil loh, yang dimana anak kecil itu ngomongnya sesuai kenyataan, engga bohong. Aduh merintih hatiku dikatain kek gitu sama bocah.

Gue pun berambisi kalau gue gak boleh seperti ini terus, kalau hanya menunggu rambut tumbuh dengan sendirinya itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan setelah dianggap seperti seorang buronan oleh bocah cilik terus gue mesti diam saja begitu? Tidak Roma!, gue harus bisa menumbuhkan rambut gue lebih cepat dari biasanya.

Gue pun coba searching di mbah google dengan keyword "cara menumbuhkan rambut kepala dengan cepat", hasilnya banyak banget artikel yg muncul sampai-sampai gue bingung mau ikutin dengan cara yang mana. Akhirnya gue coba nanya ke temen gue yang di asrama, dan dia menyarankan agar gue menggunakan shampo metal.

"Hah, shampo metal? Emang ada?", tanya gue sama teman yang seasrama.

"Ada tau san, dan itu emang buat manjangin rambut kepala", jawab temen gue.

"Ah becanda kali lu, terus nanti setelah shampoan gue angguk-anggukin kepala nanti tiba-tiba rambut gue jadi panjang dan lebat gitu?", masih bertanya dengan nada engga yakin.

"Ya engga gitu juga pea, tumbuh rambutnya berproses tapi lebih cepat dari biasanya", jawab teman gue dengan tegas

"Hhmm emang belinya dimana tuh?", tanya gue yang udah mulai percaya.

"Kayanya di indomaret ada deh. Nanti cek aja dulu kesana"

"Yaudah nanti malem anterin ya", pinta gue

"Oke"

Karena rasa penasaran dengan shampo ajaib ini, malamnya gue minta anter sama teman gue yang menyarankan shampo metal itu untuk ke indomaret.

Setelah sampai di indomaret, gue coba nyari shampo metal itu dibagian shampo dan sabun mandi. "Nah ini dia", akhirnya gue nemuin shampo metal ini, kalau dilihat dari bungkusnya sih kaya yang engga meyakinkan ya, tapi okelah gue coba dulu aja. Akhirnya gue beli tuh shampo metalnya. Seperti ini nih penampakan shamponya 👇.

Keesokan paginya waktu mandi gue coba pake shampo metalnya. Ya gue sih berharap dengan mengguanakan shampo metal ini rambut kepala gue beneran bisa tumbuh dengan cepat. Semoga ya dan tolong doakan saya 🙏.

Memang sih punya rambut botak bikin gue ilfill tapi kalau difikir lagi dari sisi positifnya gue mengapresiasi diri gue sendiri dengan sebutan "pemberani". Bagaimana tidak, gue melakukan hal yang gue takutkan, hal yang gak gue suka untuk mancapai tujuan yang gue inginkan. Pemberani gak tuh?. Ya itung-itung melatih mental gue biar kuat dari cibiran para netizen. *Semua pembaca standing aplause

Waktu yang Salah (Part 1)

Waktu yang Salah (Part 1)

Siang itu hujan turun begitu deras, Sesosok lelaki terduduk diatas kasur yang empuk tengah memandang kearah jendela, mengepalkan kedua tangannya seraya menahan derasnya air mata yang mengalir dipipinya. Isak tangis Ulil pun tersamarkan oleh suara riuhnya angin yang menyambut sang hujan. Seorang lelaki yang tegar pun begitu rapuh jika hatinya tersakiti.

Ulil baru saja putus dengan pacarnya, bertahun-tahun menjalin hubungan bersama hingga berkomitmen untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius harus pupus begitu saja bak kemarau setahun terhapus hujan sehari. Tak ada yang menyangka jika hubungan mereka akan berakhir dengan tiba-tiba, baik teman maupun orang tuanya Ulil masih tidak percaya bahwa hubungan mereka berdua akan berakhir seperti ini. Kini Ulil harus merelakan kepergian belahan jiwanya, melepaskan tahta sang ratu yang menduduki singgasana hatinya.

Sahabat Ulil yang mengetahui kabar ini pun tidak tinggal diam, mereka langsung bergegas menemui Ulil, mencoba menghiburnya setidaknya menyadarkan Ulil bahwa dia tidak sendiri, masih ada sahabatnya yang selalu ada dikala dia senang maupun sedih. Sahabatnya Ulil yang hadir ketika itu adalah Adi dan Supri.

"Udah lil jangan berlarut- larut dalam kesedihan, yang penting lu udah berikan semuanya yang terbaik, persoalan dia yang mendua biar karma yang membalas", ucap Supri sembari menepuk-nepuk pundak Ulil.

"Iya lil, lagian masih banyak kok wanita diluar sana, bahkan jumlah wanita tiga kali lipat dari jumlah pria di dunia ini, jadi jangan berkecil hati peluang buat dapetin wanita yang lebih baik persentasenya pasti lebih besar", ucap Adi, seorang buaya yang sering gonta-ganti pasangan.

"Oh iya kemaren gue abis chatingan di Messanger sama adik kelas kita, itu loh cewek yang dulu demen banget sama lu", sambung Adi.

"Siapa? Dea bukan?", tanya Ulil.

"Iya Dea, sekarang dia udah beda loh, makin cakep, coba aja lo deketin", jawab Adi.

"Nanti deh gue pintain nomor WA-nya, entar gue kirim ke lu", sambung Adi.

Ulil tau bahwa sahabatnya sedang berusaha menghibur dirinya dengan memberikan solusi terbaik menurut versi mereka, namun kenyataanya tidak semudah itu, karena yang Ulil rasakan bukan sekedar luka yang mudah untuk diobati bahkan mungkin obatnya pun tidak tersedia di apotik.

Beberapa minggu berlalu, kini Ulil hanya berteman sepi, handphone yang setiap saat selalu ramai dengan suara notifikasi dari pacarnya kini bak rumah kosong yang tak berpenghuni. Dalam kesendirian Ulil pun teringat akan kata-kata dari Adi, sahabatnya yang memberi solusi untuk mendekati adik kelasnya yang dulu menyukai Ulil. Tanpa berfikir panjang Ulil pun mencoba menghubungi Adi untuk meminta nomor handphone adik kelasnya itu, tak berapa lama Adi pun membalas chat dari Ulil.

"Penasaran juga kan lo!", jawab chat dari Adi.

"Nih nomor handphone si Doi, kalau ada kesempatan jangan disia-siain ya. Hajar aja", Sambung dari Chatingan Adi.

"Oke bro, makasi banyak :P ", jawab Ulil.

Ulil tidak ingin berlarut-larut dalam kubangan kesedihan masa lalunya yang menyakitkan, dia ingin segera membuka lembaran baru, dengan orang baru tentunya. Mungkin itu salah satu cara untuk membuatnya merasa hidup kembali. " snift...huh" menghela nafas panjang, Ulil mencoba memberanikan diri untuk menghubungi adik kelasnya itu.

"Hallo De apa kabar? ", chat pertama ulil kepada Dea, adik kelasnya.

Satu menit berlalu...

Lima menit berlalu...

Ulil pun masih stay di depan layar Hpnya itu, berharap mendapat balasan chat dari Dea dengan cepat. Namun Dea belum juga membalas chat dari Ulil.

Lima belas menit berlalu..

Tiba-tiba terdengar suara notifikasi chat yang masuk pada Hpnya Ulil, dengan sigap Ulil langsung mengecek Hpnya, ternyata benar suara notifikasi itu adalah balasan chat dari Dea. Pucuk dicinta ulam pun tiba.

"Maaf ini siapa ya?", jawab chatingan dari Dea.

"Ini aku, Ulil kakak kelas kamu waktu di SMA", balasan chat ulil kepada Dea.

"Oh kak Ulil, alhamdulilah kabar aku baik kak. Kakak sendiri apa kabar?", jawab Dea.

Lalu mereka pun saling berbalas chat. Hari itu Hp Ulil pun menjadi ramai kembali dengan notifikasi chat dari Dea. Tanpa sadar Ulil mulai melupakan tentang masa lalunya walau hanya sementara.

Beberapa hari berlalu, kini Ulil semakin intents dengan Dea, mereka berdua semakin terlihat akrab walau sebatas berbalas chat. Hingga akhirnya Ulil memutuskan untuk mengajak Dea bertemu secara langsung. Tanpa menunggu jawaban yang lama Dea pun menyetujuinya untuk bertemu secara langsung. Mereka pun menyusun waktu dan tempat untuk saling bertemu.

Akhirnya hari itu tiba, waktu menunjukkan pukul 15.30, Ulil pun bersiap- siap untuk bertemu Dea, dengan hati yang diselimuti rasa gembira sebelum pulang kerja Ulil merapihkan meja kantornya sembari tersenyum kecil. Waktu menunjukkan pukul 16.00, Ulil segera bergegas meninggalkan kantor dan pergi ke tempat mereka bertemu. Sepanjang perjalanan Ulil merangkum beberapa pertanyaan untuk nantinya dijadikan sebagai bahan obrolan.

Setelah setengah jam perjalanan dengan mengendarai sepeda motor akhirnya Ulil sampai ditempat tujuan mereka akan bertemu. Melihat banyak meja yang masih kosong, Ulil pun menentukan posisi meja yang nyaman untuk mereka berdua. Dengan rasa tak sabar untuk bertemu, Ulil mengirimkan chat kepada Dea. "De aku sudah sampai nih", namun tak ada chat balasan dari Dea, Ulil berfikiran kalau Dea masih dalam perjalanan menuju ketempat mereka bertemu.

Setengah jam berlalu namun Dea belum juga datang, dalam benak fikiran Ulil bertanya-tanya "apakah Dea tidak jadi datang?", "apakah Dea lupa kalau hari ini kita janji ketemuan?". Ulil mulai khawatir mereka batal ketemuan.

Selang berapa lama terlihat seorang wanita mengenakan pakaian serba berwarna hijau mengendarai sepeda motor Honda Scoopy tengah memasuki area parkiran motor.

"Apakah itu Dea?", tanyaku dalam hati.

Wanita itu berjalan perlahan mendekati Ulil, dan...

"HOLY SHIT!"

Wanita yang berpakaian serba hijau yang sedang berjalan mendekati Ulil itu memang Dea, wanita yang ditunggunya dari tadi. Dea berjalan semakin mendekat, ditiap langkah Dea berjalan detak jantung ulil pun semakin berdetak dengan cepat. Waktu berjalan seolah melambat, senyuman dari bibirnya yang tipis dengan langkah kakinya yang gemulai diiringi hembusan angin yang membelai baju dan kerudungnya serta wangi parfume yang dikenakannya tercium menenangkan, semesta seolah menyambut kehadirannya. Ulil seolah sedang merasa dalam adegan cinta di film india.

Dea pun duduk tepat didepan Ulil.

"Hallo ka Ulil udah lama ya nungguin aku?"

"Maaf ya kak aku kena macet waktu perjalanan ke sini", ucap Dea.

"CANTIK!"

Itu kata-kata pertama yang terucap dalam hati Ulil saat melihat Dea yang duduk tepat dihadapannya. Entah sihir apa yang Dea berikan kepada Ulil hingga dia tak mampu memalingkan pandangan selain memandang indahnya wajah Dea.

"E...engga begitu lama kok, engga apa-apa De yang penting sekarang kamu udah disini", jawab Ulil.

Pemandangan yang tidak bisa dipercaya, Dea yang dulu berbeda dengan yang sekarang. Dulu Dea hanya wanita polos dan terlihat biasa saja, sekarang Dea terlihat sangat cantik, teramat cantik mungkin, serta mengenakan pakaian yang terlihat fashionable. Sedangkan Ulil dari dulu hingga sekarang penampilannya begitu saja tak ada yang berubah, berpakaian kemeja lusuh, model rambut yang berantakan, dan beralaskan sepatu yang lem solnya sudah hampir terlepas. Memang sudah sedari dulu Ulil cuek akan penampilannya.

"Kak Ulil udah pesen makan belum?"

"Oh belum De, kakak nunggu kamu biar mesen bareng"

"Yaudah kita Pesen makanan yuk?"

"Ayook"

Mereka pun memesan makanan, sambil menunggu makanan datang, Ulil mencoba memulai obrolan dengan rangkuman pertanyaan yang sudah dia siapkan sebelumnya. Ulil selalu terpesona ketika mendengarkan Dea berbicara, bibir tipisnya yang manis serta bahasanya yang tertata membuat Ulil betah menjadi pendengar yang setia.

Dea memang sudah berbeda, dulu untuk mengobrol pun dia selalu memasang wajah tersipu malu tidak berani menatap lama-lama, bahkan bicaranya pun suka terbata-bata. Sekarang setiap kali ulil berbicara dea tak pernah melepas pandangannya dan tiap dea bicara kata-katanya selalu tertata, bahkan ketika sedang mendengarkan ulil berbicara dia meminta izin untuk membalas chat dahulu malah sekarang ulil yang merasa tersipu malu oleh dea.

Namun ketika mereka tengah asik bercengkrama tanpa disadari Ulil selalu memperhatikan tangan kanan Dea, ada benda yang terbuat dari logam yang melingkar dijari manisnya Dea. Ketika Dea sedang asik berbicara dengan berani Ulil memotong pembicaraan Dea dan langsung mengajukan pertanyaan kepada Dea.

"De, kamu sudah terikat ya?"

"Apa, terikat? terikat apa maksudnya ka?"

"Iya, itu", Sambil menunjuk ke jari manis Dea, tempat cincin itu melingkar.

"Oh cincin ini? ya kak aku sudah terikat, tunangan maksudnya"

JLEB!

Dengan perlahan ulil menelan ludah.

"OH SHIT!, LELAKI MANA YANG BERUNTUNG MENDAPATKAN HATINYA DEA!", amarah Ulil dalam hati.

Seketika selera makan Ulil hilang. Dia pun menyalahkan dirinya sendiri, kenapa dulu Ulil menyia-nyiakan Dea, sekarang Ulil malah menyesal. Memang penyesalan itu selalu datang diakhir, kalau datang diawal namanya pendaftaran. Eeeh.

"Wah selamat ya De, jangan lupa undang Kakak pas hari H nya ya"

"Siap, pastinya dong kak, kakak bakal aku undang"

Lalu mereka melanjutkan makan sambil berbincang- bincang. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul tujuh malam, sudah saatnya Ulil dan Dea mengakhiri pertemuan itu. Dengan berat hati Ulil harus berpisah dengan Dea, apakah setelah pertemuan ini ulil akan bertemu lagi dengan Dea?, entahlah, Ulil tidak berharap banyak, apalagi setelah mengetahui kalau Dea sudah bertunangan. Rasanya, menjadi hal yang rumit untuk mendekati wanita yang sudah terikat. Mereka pun berpisah dengan mengendarai sepeda motornya masing- masing.
Kuy Puasa

Kuy Puasa

L apa R alias Lapar, yaps dibulan ini tentunya gue lebih sering merasakan kelaparan dibanding bulan-bulan lainnya, itu dikarenakan bulan April 2021 ini bertepatan dengan bulan Ramadhan yang dimana orang yang beragama islam berpuasa selama satu bulan lamanya. Dengan begitu gue harus menahan rasa haus dan lapar, namun bukan hanya itu saja, saat berpuasa pun kita harus menahan rasa amarah juga syahwat.

Selain dari kata lapar, L apa R pun menjadi dua buah pilihan yang harus gue pilih disaat bulan puasa ini.

Left or Right?

ya, ibaratnya gue harus menentukan pilihan ke kiri atau ke kanan, maksudnya gue harus berpuasa atau tidak. Mungkin jawabannya "Iya Harus", "WAJIB!", karena gue masih sehat jasmani juga sehat akal (tidak gila) namun bisa juga jawabannya "Tidak Harus" walau jasmani dan akalnya sehat (tidak gila), kenapa begitu?, karena tidak semua orang muslim mau berpuasa.

Contohnya seperti rekan kerja gue, mungkin dia salah satu golongan yang menjawab bahwa puasa itu tidak wajib untuknya. Buktinya, saat baru sampai di kantor dia langsung mencari tempat aman untuk ngopi juga merokok, dan di waktu istirahat dia pun makan siang bersama temannya. Semua kembali lagi pada orangnya masing-masing. Mau atau tidak?. Sebenarnya berpuasa di bulan Ramadhan sangat banyak manfaatnya bagi kesehatan tubuh kita seperti:

Menurunkan berat badan - Dengan berpuasa dalam jangka waktu tertentu dapat meningkatkan metabolisme dengan meningkatkan kadar neurotransmitter norepinefrin, yang dapat membantu menurunkan berat badan.

Mengontrol gula darah - puasa dapat meningkatkan kontrol gula darah yang sangat berguna bagi penderita diabetes karena pembatasan asupan kalori dalam tubuh saat seseorang berpuasa juga dapat mengurangi resistensi insulin.

Meningkatkan kesehatan jantung - Beberapa penelitian menemukan bahwa puasa bisa sangat bermanfaat untuk kesehatan jantung. Sebab, puasa dapat membantu menurunkan tekanan darah, trigliserida, dan kadar kolesterol jahat dalam tubuh.

Dan masih banyak lagi manfaat berpuasa untuk kesehatan tubuh kita. Selain itu dengan berpuasa, secara tidak langsung melatih kita untuk selalu bersabar dan mensyukuri nikmat yang kita miliki. Bukankah sebelum bulan Ramadhan kita dapat bebas untuk memakan makanan yang kita inginkan, meneguk berbagai macam minuman yang menyegarkan? namun tidak berlaku untuk saudara kita di luar sana yang harus mengemis di persimpangan jalan, menari-nari dengan kostum kartun demi sesuap nasi.

Bahkan dengan kita berpuasa dapat menghapus dosa dan melipatgandakan ibadah yang kita kerjakan. Kurang apalagi?

Sepadan kah dengan makananan dan minuman yang kalian nikmati demi tidak mau menahan rasa haus dan lapar sehingga tidak berpuasa?. Beda jauh boss!

Kuy puasa, mumpung kita masih ada umur dan masih sanggup untuk berpuasa.

Food photo created by nakaridore - www.freepik.com
Kameramen Tawuran

Kameramen Tawuran

Siang itu di ruang smoking area kantor tempat gue bekerja terdapat empat orang yang sedang makan siang, mereka berempat mengenakan seragam sekolah, tentu saja mereka adalah anak sekolahan yang sedang prakerin. Ketika melihat mereka sedang makan siang seketika gue bernostalgia dengan masa sekolah dulu.

Ah... rasanya gue kangen dengan masa putih abu-abu. Banyak kenangan didalamnya, namun dari sekian banyaknya kenangan dimasa sekolah entah kenapa kenangan yang menegangkan plus lucu yang muncul diingatan gue. kenangan itu adalah ketika gue menjadi kameramen tawuran. Yaps! ketika sekumpulan orang tengah menggenggam senjata tajam saat akan tawuran malah gue sendirian yang menggenggam handphone untuk merekam kejadian tersebut. Rasanya kalau mengingat kejadian tersebut gue merasa bego banget!.

Kejadiannya kira-kira ketika gue masih kelas 1 SMK, waktu itu gue sedang berkumpul di rumah teman sekampung gue, teman gue ini namanya Atam. Saat asik mengobrol dengan Atam tiba-tiba datang beberapa orang yang tidak dikenal, ternyata meraka adalah teman sekolahnya Atam, maklum kalau gue engga mengenal mereka karena Atam dan gue berbeda sekolah.

Atam dan temannya pun berkumpul sembari membicarakan sesuatu yang penting, beberapa dari mereka ada yang berbicara dengan nada yang keras, karena penasaran gue pun mendekat dan ikut mendengarkan dalam pembicaraan tersebut. Setelah mendengarkan cukup lama gue pun paham ternyata mereka sedang membicarakan tentang tawuran dengan sekolahan lain dan sialnya karena gue turut mendengarkan dalam pembicaraan tersebut, Atam mengajak gue untuk ikut serta dalam tawuran tersebut.

"MAMPUS! kenapa gue jadi kebawa-bawa", kata gue dalam hati.

"Lah kenapa gue jadi ikut-ikutan tam?, kaga mau ah!", tolak gue.

"ayolah san bantu temen napa, masa gak mau bantu", jawab Atam.

"Gue belum pernah ikut tawuran tam, masih pengen hidup gue, belum nikah pula!".

"Gue gak nyuruh lu buat ikutan tawuran, cuma minta tolong videoin gue pas lagi tawuran, tapi posisi lu paling depan sebelah kanan gue".

"Eh udah gila lu ya?, udah posisi gue paling depan cuma megang HP doang pula, masih mendingan lu bawa gear jadi ada pertahanan kalau diserang, sedangkan gue bisa langsung mampus!".

"Nyantai aja san, kalau bagian ngevideoin engga akan diserang".

"Biji lu engga akan diserang!, jelas-jelas musuh kan tau kalau gue ada dipihak lu".

"Udah tenang aja, nanti gue yang ngomong sama pentolan sekolah musuh kalau lu gak ikut tawuran, cuma buat ngevideion doang".

"Lah bisa gitu."

Karena gue orangnya baik hati dan tidak sombong, juga rajin menabung, akhirnya gue mengabulkan permintaan Atam. #Amsyong.

Setelah gue setuju, Atam dan teman-temannya mulai memasang strategi dan posisi, by the way posisi Atam disini sebagai pentolan sekolahnya. Tawuran pun disepakati oleh kedua belah pihak pada jam 2 malam hari ini, bertempat di jalan raya perumahan dekat kampung gue. Lalu Atam pun nyuruh gue buat keluarin semua peralatan tawuran yang dititipin ke gue. Semua alat tawuran gue keluarin, mulai dari gear yang diikat sabuk taekwondo, cerulit, samurai, hairdryer, voucher pulsa, sampai bumbu indomie 🤣. Bisa dibilang gue ini penadah peralatan tawurannya Atam, jadi kalau dia punya alat tawuran yang baru pasti dititipin ke gue.

Sudah pukul setengah dua malam, kita semua sudah berkumpul di rumahnya Atam, kurang lebih ada 12 orang yang ikut berpartisipasi dalam mempertahankan kekuatan dan mengharumkan nama sekolahannya dalam bidang tawuran. Sambil prepare peralatan tawuran pun mulai di distribusikan ke semua orang yang hadir, ada yang dapat cerulit, gear, samurai juga ada yang dapat bumbu indomie 🤣. Dan hanya gue seorang yang megang HP, Gleek!.

Semua senjata sudah di distribusikan, mental pun sudah dikukuhkan. "Sebelum memulai pertempuran, mari kita berdoa agar kita dimenangkan dalam pertempuran malam ini, berdoa dimulai", ucap si Atam sebelum berangkat ke medan pertempuran. Kita pun berjalan bersamaan, memasang wajah garang dengan gaya layaknya sang jagoan seperti dalam film crows zero, berteriak-teriak entah nama siapa yang disebut.

GEENJIII!.... SERIZAWAAAA!.... MARIA OZAWAAA!.... KIMOCHIIII!

Tidak lama kita sampai ditempat pertempuran, malam itu jalanan sangat sepi sekali, semua bersiap dan menempati posisi masing-masing, sementara pasukan musuh sudah mulai terlihat dari kejauhan jalan.

Dibaris paling depan, sebelah kanan ada gue yang siap buat ngerekam pertempuran, sebelah kiri gue ada Atam yang sedang memutar-mutarkan gear, disebelah kiri Atam ada si Cokel tengah duduk sambil memutar-mutakkan gear dan disebelah Cokel ada si Oay yang siap dengan bambu panjang ditangannya. Musuh pun sudah menempati posisinya masing-masing. Ketika hitungan waktu mundur diteriakan tanda akan dimulainya pertempuran, Cokel yang awalnya sedang duduk mulai beranjak berdiri, namun ketika Cokel sudah berdiri tiba-tiba terjadi suatu kecelakan

BLETAAK!!!

Kepala Cokel bercucuran darah, terkena tebasan gear yang sedang diputar-putar oleh Atam karena posisi Cokel terlalu dekat dengan Atam. Tanpa berfikir panjang Cokel pun langsung berpindah posisi kebagian belakang.

Pertempuran pun dimulai

Atam berlari paling depan, disusul oleh Oay dan gue yang sudah mulai merekam pertempuran. Dengan perasaan was-was dan takut akan terkena serangan musuh gue tetap coba beranikan diri untuk merekam.

Kun Fayakun-lah pokoknya

Gear Atam yang diayunkan berbenturan dengan gear lawan, dari benturan itu keluar percikan api. Berkali-kali gear itu saling beradu, sedangkan Oay harus berhadapan dengan musuh yang bersenjatakan cerulit. Oay yang perawakannya kekar dapat dengan mudah mengayunkan bambu yang panjang, sehingga cerulit digenggaman lawan dapat terlepas. Lawan yang kehilangan cerulitnya terpaksa harus mundur kebelakang. Oay pun mengambil cerulit lawan yang terlepas.

Diposisi Atam, gear yang awalnya saling beradu sekarang saling melilit, Atam dan lawannya saling tarik menarik tali gear yang melilit. Lawan yang lebih kuat dan lebih cepat menarik tali gear membuat Atam jatuh tersungkur kedapan, dengan sigap lawan langsung mendekati Atam dan melayangkan gear tepat ke bagian kepala Atam.

BLETAAK!!!

Atam masih dalam keadaan tersungkur, gear yang dilayangkan musuh ke kepala Atam terbentur dengan bambu panjangnya Oay. Beruntung Oay cepat menyadari posisi Atam yang sedang terdesak. Oay pun memutar-mutar bambu yang dia pegang sehingga tali gear musuh melilit dibambunya, lalu dengan keras Oay menarik bambunya, untuk kedua kalinya Oay berhasil mengambil senjata lawan. Lawan pun mundur kebelakang. Oay membantu Atam berdiri dan kita bertiga mundur kebelakang untuk merapikan posisi masing-masing.

Saat gue lagi berjalan kebelakang tiba-tiba ada gear melayang dari kudu lawan ke arah gue. Gue pun kaget dan untungnya bisa menghindari gear tersebut. Gue teriak ke pihak lawan.

"WOOII ANJING!, GUE KAGA IKUTAN, GUE CUMA NGEREKAM DOANG!", marah gue.

"Eh sorry-sorry gue engga tau", jawab pihak lawan.

Setelah kedua kubu bersiap-siap, lalu mulai saling menyerang lagi. Kini pertempuran semakin sengit, gue pun semakin fokus merekam sambil mengawasi situasi sekitar, takutnya ada serangan nyasar lagi ke arah gue.

BLENTRANG!

TAK!

TAK!

JEBRET!

Semua senjata saling beradu. Beberapa dari pihak musuh ada yang terkena tebasan senjata tajam, begitu juga dengan pihak Atam. Kendaraan yang melaju ke arah pertempuran pun harus memutar balik agar tidak ikut terkena serangan. Setelah cukup lama pertempuran berlangsung, tiba-tiba dari barisan belakang lawan berlari sambil berteriak.

"KABUUR...KABUUR, ADA BANYAK WARGA DI BELAKANG"

Pertempuran terhenti sesaat, pandangan semua orang fokus ke arah datangnya warga, dari kejauhan jalan ternyata ada banyak warga yang datang untuk membubarkan tawuran. Seketika kita lari berhamburan, dalam situasi seperti itu tidak ada kawan maupun lawan yang terpenting selamatkan diri masing-masing.

Tepat disamping kanan gue ada gang yang menuju ke komplek perumahan deket kampung gue. Karena gue tau jalan tersebut, tanpa memperdulikan yang lain gue langsung lari masuk ke gang. Berlari terus masuk ke dalam komplek perumahan, ambil jalan pintas agar tidak terkejar oleh warga, beberapa teman ada yang mengikuti gue. Gue dan teman-temen yang kabur searah dengan gue berhenti dan bersembunyi di depan warung sayur yang sudah tutup.

Sekiranya situasi sudah merasa aman gue ngajak temen-temen yang dibelakang gue buat balik ke rumah, pas gue lagi melihat ke arah mereka dan mengajak pulang, sontak gue langsung merasa kaget, jantung pun berdebar kencang, ternyata yang lari kabur bersama gue bukan temen gue melainkan musuh tawuran Gue.

"MAMPUUUUSSS, MATI DIKEROYOK DAH GUE!", ucap gue dalam hati.

Mereka semua menatap ke arah gue. Gue pun menatap ke arah mereka sambil memikirkan cara agar bisa pulang dengan selamat. Sekujur badan gue terasa membatu melihat mereka semua yang tengah menatap gue dengan senjata tajam ditangannya, ada yang memegang cerulit, samurai, dan gear. Harus memikirkan cara terbaik agar bisa terlepas dari mereka. Salah ucap sedikit bisa pindah ke akherat gue.

Akhirnya terfikirkan cara agar terlepas dari mereka.

"Bro untuk sekarang kita kesampingkan dulu nih tawuran kita, sekarang yang terpenting kita engga ketangkep sama warga dan bisa pulang dengan selamat", ucap gue ke mereka.

"Iya bang setuju", serentak mereka menjawab.

"Laah langsung setuju, ampuh juga bujukan gue, xixixi", gumam dalam hati.

"Yaudah kalian pada balik gih".

"Kita engga tau bang jalan keluar dari sini"

"Kalian jalan aja terus ke jalan yang arah sini, nanti keluar-keluar di jalan besar", arahan Gue ke mereka.

"Eh tapi kalian jalannya jangan barengan semua, bertiga-tiga aja, terus itu senjatanya simpen dulu aja di bawah keranjang sayur biar engga ketauan kalau pas-pasan sama warga", sambung gue.

Entah mereka yang polos atau sedang merasa takut, semua ucapan gue diikutin oleh mereka semua. Semua senjata dikumpulkan dan disimpan di bawah keranjang sayur, mereka pun mulai pergi bertiga-tiga, setelah mereka bertiga dirasa sudah berjalan cukup jauh, lalu disusul oleh ketiga temennya yang lain dan begitu seterusnya sampai mereka semua pergi.

Akhirnya gue bisa bernafas lega dan merasa aman. Gue yang tidak melewatkan kesempatan, langsung mengambil semua senjata tajam yang mereka simpan di bawah keranjang sayur, dengan cepat gue langsung pergi ke jalan yang berlawanan dengan mereka, jalan pulang ke arah rumah gue.

Keesokan harinya, kita berkumpul kembali dirumah Atam, alhamdulilahnya engga ada dari pihak kita yang tertangkap oleh warga. Sambil menunjukkan hasil jarahan senjata tajam semalem, gue menceritakan kejadian dari mulai kabur dikejar warga sampai bisa dapat senjata tajam sebanyak ini. Atam dan temen-temannya yang sedang mendengar cerita gue seketika semuanya tertawa ngakak sejadi-jadinya. Mereka menganggap kejadian yang gue alami semalem itu lucu, padahal kan dimomen itu nyawa gue dipertaruhkan. Bangke banget emang mereka semua.

Gue kapok ikut tawuran lagi, mau nanti diminta jadi kameramen kek, jadi hakim garis kek, jadi panitia penyelenggara kek, pokoknya engga mau lagi gue ikut-ikutan tawuran. Kapok sekapok-kapoknya.