Saodah yang Penuh Amarah

Disuatu masa hiduplah sekeluarga manusia yang tinggal di gubuk sementaranya (ngontrak), mereka terdiri dari 4 orang manusia yaitu sepasang suami istri dan kedua anaknya. Seorang suami yang bermata pencaharian sebagai tukang bubur, istrinya yang bernama saodah sebagai ibu rumah tangga dan kedua anaknya yang masih kecil, sebut saja mereka ayi dan otok. Ayi adalah anak perempuan juga anak bungsu, kira-kira umurnya 1½ tahun dan otok adalah kakak laki-laki dari ayi umurnya ±5 tahun. Mereka hidup dengan damai, namun semuanya berubah ketika negara api menyerang...

Enough...enough!, Gue kira cukup untuk menuliskan prolog tentang keluarga tersebut. Mau diterusin takut engga kuat nahan isak tangis. Hik hik.
Saodah, siapa sih saodah itu?, Saodah adalah nama ibu dari ayi dan otok. Berbadan besar, bulat, hitam, dan mulutnya itu loh..beeuh barokah deh omongannya. Sekali saodah ini marah, nasi aja bisa jadi bubur (yaiyalaah suaminya yang bikin bubur), sekali suaminya bikin bubur dia langsung naik haji, eeeh...sinetron kali ye.

Keluarga ibu saodah ini adalah salah satu tetangga gue, jarak rumahnya dengan rumah gue kira-kira 7 meter. Keluarga saodah menjadi keluarga ter-hits di kampung gue, bagaimana tidak karena hampir setiap harinya keluarga ini menjadi tontonan warga kampung gue, ini dikarenakan kelakuan ibu saodah kepada anaknya yang kurang "mendidik" dan bahasanya yang tidak patut didengar oleh siapapun terlebih anak-anak di bawah umur.

Otok sebagai anak pertama ibu saodah selalu bertengkar dengan ibunya sendiri, mereka berdua seperti kucing dan anjing, bertengkar setiap harinya. Pertengkaran mereka semacam alarm buat gue sendiri. Misal jika mereka bertengkar pagi hari artinya sudah menunjukkan pukul 7 pagi dan jika mereka bertengkar sore hari berarti sudah pukul 5 atau 6 sore. Begitulah kelakuan ibu saodah setiap harinya.

Mungkin pertengkaran mereka disebabkan oleh kesalahan otok yang tidak patuh kepada ibunya, namun menurut gue cara ibu saodah marah kepada anaknya tidak pantas di lontarkan dengan kata-kata kasar, sampai seisi hewan di hutan rimba dia absen.

OTOOOK KADIE SIAAAA ANJIIING, TOLOOL SIA*, DIPAEHAN SIA KU AING**
terjemahannya, OTOOOK KESINI KAMU ANJIIING, TOLOOL KAMU, DIBUNUH KAMU SAMA SAYA
*SIA = kamu (bahasa kasar)
**AING = saya (bahasa kasar)

MOONYEEET SIA DASAR GOBLOOG, TOLOOL TONG BALIK SIA KA IMAH
terjemahannya, MOONYEEET KAMU DASAR GOBLOOG, TOLOOL JANGAN PULANG KAMU KE RUMAH

Bagaimana menurut elu tentang amarah ibu saodah ini?, barokah bangetkan bahasanya. Sampai sempat ada seorang ibu yang tinggal sebelahan dengan ibu saodah menegur karena merasa terganggu dengan bahasanya. Karena si ibu ini takut dengan bahasa ibu saodah yang kasar dapat membawa pengaruh buruk untuk anaknya dan juga untuk anak-anak lainnya yang mendengar. Karena ibu saodah ini tidak terima maka terjadilah pertempuran, pak RT yang mengetahui kejadin ini langsung sigap menanggapi dengan memasang ring di arena pertempuran, bel pun dibunyikan oleh pak RT, "TEENGG!" menandakan pertempuran dimulai, warga yang melihat dari jauh pun berbondong-bondong datang mendekat, mereka merogoh semua kantong celananya, mengambil uang untuk memasang taruhan. Waanjiiir kenapa jadi gini ya ceritanya?, bodo amat daah.

Lantang amarah ibu saodah ini memang luar biasa, mungkin bisa terdengar sampai ke langit ketujuh, mengalahkan suara toa tukang tahu bulat yang sedang pawai. Pernah gue lihat sendiri pertengkaran ibu saodah dengan otok anaknya. Otok yang ketakutan lari terbirit-birit dikejar oleh ibunya, bu saodah ini lari mengejar otok dengan sendal jepit ditangannya, mungkin untuk dilemparkan ke anaknya, kalau enggak salah pas gue perhatikan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya merk sendal jepit yang dipegang bu saodah ini adalah sky way berwarna hijau. Mungkin ya, itu baru perkiraan gue aja. Hehe.

Kejar-kejaran itu tepat banget di hadapan gue, bu saodah berlari melewati rumah gue dan terus berlari mengejar anaknya, tidak lupa dengan bahasanya yang barokah itu. Gue yang liat kejadian itu, melihat bu saodah seperti melihat godzilla yang meraung kelaparan sedang mengejar sate taichan untuk disantapnya. Namun usaha bu saodah untuk menangkap anaknya gagal, dalam kekesalannya bu saodah pun mengucap "MONYEET SIA TOLOOL, AWAS SIA MUN BALIK KA IMAH MOAL DIBERE PANTO KU AING. Terjemahin sendiri. Setelah itu bu saodah berjalan pulang dengan sandal jepit sky way yang masih digenggamnya.

Lantas selama pertikaian bu saodah dengan anaknya, dimanakah suami bu saodah berada?, mengapa tidak melerai pertikaian tersebut?, entahlah!. Mungkin suaminya menghilang ketika negara api menyerang.

Sumber gambar  Liza Summer

Get notifications from this blog

Boleh kok kalau mau berkomentar, tapi jangan mengandung SARA ya!