Melunasi Hutang Waktu: Tentang Janji Kecil di Hari Minggu

Melunasi Hutang Waktu: Tentang Janji Kecil di Hari Minggu

Melunasi Hutang Waktu: Tentang Janji Kecil di Hari Minggu

Bagi kita orang dewasa, kata "nanti" sering kali hanyalah cara praktis untuk menunda rengekan di tengah tumpukan pekerjaan atau rasa lelah yang menghimpit. Namun, bagi sepasang mata kecil yang menatap kita dengan penuh harap, "nanti" adalah sebuah janji suci yang dicatat lekat-lekat dalam ingatannya. Hari ini, gue memutuskan untuk melunasi hutang itu di Kidszilla, Mall Jambu Dua. Bukan karena tempatnya yang mewah, tapi karena gue tidak ingin menjadi orang pertama yang mengajarkan dia arti patah hati karena sebuah janji yang diingkari.

Tepat pukul sepuluh pagi, rumah mulai terasa sibuk dengan energi yang berbeda. Si kecil sudah sigap dengan jaketnya, duduk di depan pintu sambil berusaha memakai sepatunya sendiri dengan penuh semangat. Di kamar, Ibunya masih telaten memastikan padu padan baju dan celana agar ia tampil nyaman sekaligus rapi, Sementara itu, gue sudah jadi 'tim sorak' di luar sambil memanaskan motor. Setelah semua 'pasukan' lengkap, kami pun tancap gas dengan hati yang ringan.

Sesampainya di tempat wahana bermain, begitu kaki si kecil menyentuh karpet busa, ia seolah bertransformasi menjadi penjelajah kecil tanpa rasa takut. Ia berlari zigzag menghindari rintangan, lalu dengan napas memburu, memanjat jaring-jaring tali dengan jemari mungil yang mencengkeram kuat. Momen paling magis adalah saat ia meluncur bebas dari perosotan tertinggi dengan tawa lepas yang mengalahkan riuh musik di sana.

Tak berhenti di situ, ia segera menceburkan diri ke dalam lautan mandi bola. Di tengah ribuan bola plastik warna-warni itu, ia tampak begitu mungil namun sangat bahagia, seolah sedang berenang di samudera imajinasinya sendiri. Sesekali ia muncul ke permukaan, melempar bola ke udara dengan mata berbinar, lalu kembali 'tenggelam' dalam keriangan plastik yang bergemerincing.

Puas bergerak aktif, ia berpindah ke sudut yang lebih tenang: wahana pasir plastik. Dengan tekun, ia mengeruk butiran plastik halus yang menyerupai pasir itu menggunakan sekop kecil, mengisinya ke dalam ember, dan membangun 'istana' impiannya. Di sini, gue melihat sisi lainnya—seorang arsitek kecil yang penuh konsentrasi, jemarinya lincah memilah butiran plastik, menciptakan dunia mungilnya sendiri di tengah hiruk pikuk mall.

Di antara aroma pengharum ruangan dan gelak tawa si kecil, gue tersadar: bagi kita ini mungkin hanya satu atau dua jam yang melelahkan, tapi bagi dia, ini adalah momen ajaib di mana dunianya dihargai sepenuhnya. Menepati janji pada anak ternyata bukan sekadar tentang bermain; ini adalah tentang menjaga kepercayaannya bahwa kata-kata orang tuanya bisa dipegang.

Sore ini kami pulang dari Kidszilla, Mall Jambu Dua dengan kaki pegal, tapi hati terasa penuh. Ternyata, yang bahagia hari ini bukan cuma si kecil, tapi juga sisi anak-anak di dalam diri gue yang ikut "sembuh" melihat tawanya.

Jujur, ada alasan sederhana kenapa gue akhirnya melabuhkan pilihan ke Kidszilla, Mall Jambu Dua untuk melunasi janji hari ini. Selain karena wahananya yang beragam dan bikin si kecil betah, suasananya juga lebih tenang dan tidak terlalu padat. Sementara gue bisa mengawasinya dengan santai tanpa perlu sikut-sikutan dengan pengunjung lain. Kadang, kenyamanan orang tua dalam mengawasi itu sama pentingnya dengan kegembiraan anak saat bermain.

Hutang waktu hari ini: Lunas

Sedikit cuplikan waktu si kecil lagi di dunianya sendiri. Seru banget ternyata!

Bermain pasir plastik Bermain mandi bola Belanja di supermarket Menyusun rumah dengan bata busa si kakak sedang bergaya suasana di wahana bermain
Terpaksa Botak, Assuudahlah!

Terpaksa Botak, Assuudahlah!

Botaak

Botaaak

Botaaak

Kata-kata itu yang selalu terngiang dalam kepala gue saat ini. Gue paling trauma kalau mesti rambut gue dibotakin, rasanya harga diri gue terampas dan minder untuk bersosialisasi dengan orang lain. Lebay ya?, tapi nyatanya gue ngerasa seperti itu loh.

Terus kenapa sekarang malah dibotakin?

Salah satu persyaratan untuk mengikuti pelatihan di Cevest Bekasi yaitu rambut harus dipotong maksimal ketebalan 1 cm dan itu menurut gue sudah masuk kategori botak. Jadi tau kan alasannya kenapa rambut gue mesti dibotakin walapun gue sendiri gak suka banget?, jawabannya ada pada kata pertama dari judul di atas, yups T E R P A K S A.

Terhitung sudah tiga kali rambut gue dibotakin dan itu semua karena terpaksa. Pertama kali rambut gue dibotakin yaitu pas masuk SMA. Awal masuk SMA biasanya harus mengikuti MOS terlebih dahulu dan untuk lelaki rambutnya harus dibotakin. Yang kedua ketika masuk perguruan tinggi, hampir sama seperti awal masuk SMA, kita mesti mengikuti OSPEK dahulu dan untuk lelaki rambut harus dibotakin juga, dan yang ketiga saat mengikut pelatihan di Cevest Bekasi saat ini. Semuanya karena terpaksa.

Bagi gue rambut amat berharga untuk penampilan gue karena setelah gue berkaca dengan potongan rambut botak seperti ini gue merasa diri gue bagaikan sebuah pin bowling, kepala kecil badan besar bulat. Mending kalau terlihat gemes tapi ini malah terlihat iiyyuuh banget deh.

Selain rasa percaya diri gue jadi menciut rambut botak ini membuat ketamvanan gue menjadi pudar seketika, padahal sebelum rambut gue botakin, ketamvanan gue tuh 11 12 sama Taehyung tau, kalian percaya gak? *ya tentu tidaaaak! #pedeGila. Mungkin gue mirip Taenya aja kali ya?. Hehehe

Terkadang gue menghayal, andai saja kalau gue keturunan bangsa saiyan, mungkin akan mudah mengatasi rambut gue yang botak ini agar tumbuh lebat kembali secara instan hanya dengan memasang kuda-kuda dan mengepalkan kedua tangan lalu berteriak dengan rasa amarah yang meledak-ledak, seketika rambut gue yang botak berubah menjadi panjang kek son goku yang berubah jadi super saiya 3. Tapi naas itu semua hanya khayalan doang, hanya imajinasi semata *Ngimpi!.

Namun ada momen dimana gue merasa ngenes banget karena berambut botak seperti ini. Gue merasa terpuruk banget setelah mendengar kata-kata dari keponakan gue yang masih kecil. Kata-katanya itu ialah

"A isan kunaon dibotakan kitu? Keueung nyaho a nempona okos buronan"

Artinya: mas isan kenapa dibotakin gitu? Serem tau mas liatnya kaya buronan.

"Kaya BURONAN?"

JLEB!

Seketika dada gue merasa sakit seperti tertusuk duri ikan. Ikan paus!. Yang ngomong gitu anak kecil loh, yang dimana anak kecil itu ngomongnya sesuai kenyataan, engga bohong. Aduh merintih hatiku dikatain kek gitu sama bocah.

Gue pun berambisi kalau gue gak boleh seperti ini terus, kalau hanya menunggu rambut tumbuh dengan sendirinya itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama dan setelah dianggap seperti seorang buronan oleh bocah cilik terus gue mesti diam saja begitu? Tidak Roma!, gue harus bisa menumbuhkan rambut gue lebih cepat dari biasanya.

Gue pun coba searching di mbah google dengan keyword "cara menumbuhkan rambut kepala dengan cepat", hasilnya banyak banget artikel yg muncul sampai-sampai gue bingung mau ikutin dengan cara yang mana. Akhirnya gue coba nanya ke temen gue yang di asrama, dan dia menyarankan agar gue menggunakan shampo metal.

"Hah, shampo metal? Emang ada?", tanya gue sama teman yang seasrama.

"Ada tau san, dan itu emang buat manjangin rambut kepala", jawab temen gue.

"Ah becanda kali lu, terus nanti setelah shampoan gue angguk-anggukin kepala nanti tiba-tiba rambut gue jadi panjang dan lebat gitu?", masih bertanya dengan nada engga yakin.

"Ya engga gitu juga pea, tumbuh rambutnya berproses tapi lebih cepat dari biasanya", jawab teman gue dengan tegas

"Hhmm emang belinya dimana tuh?", tanya gue yang udah mulai percaya.

"Kayanya di indomaret ada deh. Nanti cek aja dulu kesana"

"Yaudah nanti malem anterin ya", pinta gue

"Oke"

Karena rasa penasaran dengan shampo ajaib ini, malamnya gue minta anter sama teman gue yang menyarankan shampo metal itu untuk ke indomaret.

Setelah sampai di indomaret, gue coba nyari shampo metal itu dibagian shampo dan sabun mandi. "Nah ini dia", akhirnya gue nemuin shampo metal ini, kalau dilihat dari bungkusnya sih kaya yang engga meyakinkan ya, tapi okelah gue coba dulu aja. Akhirnya gue beli tuh shampo metalnya. Seperti ini nih penampakan shamponya 👇.

Keesokan paginya waktu mandi gue coba pake shampo metalnya. Ya gue sih berharap dengan mengguanakan shampo metal ini rambut kepala gue beneran bisa tumbuh dengan cepat. Semoga ya dan tolong doakan saya 🙏.

Memang sih punya rambut botak bikin gue ilfill tapi kalau difikir lagi dari sisi positifnya gue mengapresiasi diri gue sendiri dengan sebutan "pemberani". Bagaimana tidak, gue melakukan hal yang gue takutkan, hal yang gak gue suka untuk mancapai tujuan yang gue inginkan. Pemberani gak tuh?. Ya itung-itung melatih mental gue biar kuat dari cibiran para netizen. *Semua pembaca standing aplause

Kameramen Tawuran

Kameramen Tawuran

Siang itu di ruang smoking area kantor tempat gue bekerja terdapat empat orang yang sedang makan siang, mereka berempat mengenakan seragam sekolah, tentu saja mereka adalah anak sekolahan yang sedang prakerin. Ketika melihat mereka sedang makan siang seketika gue bernostalgia dengan masa sekolah dulu.

Ah... rasanya gue kangen dengan masa putih abu-abu. Banyak kenangan didalamnya, namun dari sekian banyaknya kenangan dimasa sekolah entah kenapa kenangan yang menegangkan plus lucu yang muncul diingatan gue. kenangan itu adalah ketika gue menjadi kameramen tawuran. Yaps! ketika sekumpulan orang tengah menggenggam senjata tajam saat akan tawuran malah gue sendirian yang menggenggam handphone untuk merekam kejadian tersebut. Rasanya kalau mengingat kejadian tersebut gue merasa bego banget!.

Kejadiannya kira-kira ketika gue masih kelas 1 SMK, waktu itu gue sedang berkumpul di rumah teman sekampung gue, teman gue ini namanya Atam. Saat asik mengobrol dengan Atam tiba-tiba datang beberapa orang yang tidak dikenal, ternyata meraka adalah teman sekolahnya Atam, maklum kalau gue engga mengenal mereka karena Atam dan gue berbeda sekolah.

Atam dan temannya pun berkumpul sembari membicarakan sesuatu yang penting, beberapa dari mereka ada yang berbicara dengan nada yang keras, karena penasaran gue pun mendekat dan ikut mendengarkan dalam pembicaraan tersebut. Setelah mendengarkan cukup lama gue pun paham ternyata mereka sedang membicarakan tentang tawuran dengan sekolahan lain dan sialnya karena gue turut mendengarkan dalam pembicaraan tersebut, Atam mengajak gue untuk ikut serta dalam tawuran tersebut.

"MAMPUS! kenapa gue jadi kebawa-bawa", kata gue dalam hati.

"Lah kenapa gue jadi ikut-ikutan tam?, kaga mau ah!", tolak gue.

"ayolah san bantu temen napa, masa gak mau bantu", jawab Atam.

"Gue belum pernah ikut tawuran tam, masih pengen hidup gue, belum nikah pula!".

"Gue gak nyuruh lu buat ikutan tawuran, cuma minta tolong videoin gue pas lagi tawuran, tapi posisi lu paling depan sebelah kanan gue".

"Eh udah gila lu ya?, udah posisi gue paling depan cuma megang HP doang pula, masih mendingan lu bawa gear jadi ada pertahanan kalau diserang, sedangkan gue bisa langsung mampus!".

"Nyantai aja san, kalau bagian ngevideoin engga akan diserang".

"Biji lu engga akan diserang!, jelas-jelas musuh kan tau kalau gue ada dipihak lu".

"Udah tenang aja, nanti gue yang ngomong sama pentolan sekolah musuh kalau lu gak ikut tawuran, cuma buat ngevideion doang".

"Lah bisa gitu."

Karena gue orangnya baik hati dan tidak sombong, juga rajin menabung, akhirnya gue mengabulkan permintaan Atam. #Amsyong.

Setelah gue setuju, Atam dan teman-temannya mulai memasang strategi dan posisi, by the way posisi Atam disini sebagai pentolan sekolahnya. Tawuran pun disepakati oleh kedua belah pihak pada jam 2 malam hari ini, bertempat di jalan raya perumahan dekat kampung gue. Lalu Atam pun nyuruh gue buat keluarin semua peralatan tawuran yang dititipin ke gue. Semua alat tawuran gue keluarin, mulai dari gear yang diikat sabuk taekwondo, cerulit, samurai, hairdryer, voucher pulsa, sampai bumbu indomie 🤣. Bisa dibilang gue ini penadah peralatan tawurannya Atam, jadi kalau dia punya alat tawuran yang baru pasti dititipin ke gue.

Sudah pukul setengah dua malam, kita semua sudah berkumpul di rumahnya Atam, kurang lebih ada 12 orang yang ikut berpartisipasi dalam mempertahankan kekuatan dan mengharumkan nama sekolahannya dalam bidang tawuran. Sambil prepare peralatan tawuran pun mulai di distribusikan ke semua orang yang hadir, ada yang dapat cerulit, gear, samurai juga ada yang dapat bumbu indomie 🤣. Dan hanya gue seorang yang megang HP, Gleek!.

Semua senjata sudah di distribusikan, mental pun sudah dikukuhkan. "Sebelum memulai pertempuran, mari kita berdoa agar kita dimenangkan dalam pertempuran malam ini, berdoa dimulai", ucap si Atam sebelum berangkat ke medan pertempuran. Kita pun berjalan bersamaan, memasang wajah garang dengan gaya layaknya sang jagoan seperti dalam film crows zero, berteriak-teriak entah nama siapa yang disebut.

GEENJIII!.... SERIZAWAAAA!.... MARIA OZAWAAA!.... KIMOCHIIII!

Tidak lama kita sampai ditempat pertempuran, malam itu jalanan sangat sepi sekali, semua bersiap dan menempati posisi masing-masing, sementara pasukan musuh sudah mulai terlihat dari kejauhan jalan.

Dibaris paling depan, sebelah kanan ada gue yang siap buat ngerekam pertempuran, sebelah kiri gue ada Atam yang sedang memutar-mutarkan gear, disebelah kiri Atam ada si Cokel tengah duduk sambil memutar-mutakkan gear dan disebelah Cokel ada si Oay yang siap dengan bambu panjang ditangannya. Musuh pun sudah menempati posisinya masing-masing. Ketika hitungan waktu mundur diteriakan tanda akan dimulainya pertempuran, Cokel yang awalnya sedang duduk mulai beranjak berdiri, namun ketika Cokel sudah berdiri tiba-tiba terjadi suatu kecelakan

BLETAAK!!!

Kepala Cokel bercucuran darah, terkena tebasan gear yang sedang diputar-putar oleh Atam karena posisi Cokel terlalu dekat dengan Atam. Tanpa berfikir panjang Cokel pun langsung berpindah posisi kebagian belakang.

Pertempuran pun dimulai

Atam berlari paling depan, disusul oleh Oay dan gue yang sudah mulai merekam pertempuran. Dengan perasaan was-was dan takut akan terkena serangan musuh gue tetap coba beranikan diri untuk merekam.

Kun Fayakun-lah pokoknya

Gear Atam yang diayunkan berbenturan dengan gear lawan, dari benturan itu keluar percikan api. Berkali-kali gear itu saling beradu, sedangkan Oay harus berhadapan dengan musuh yang bersenjatakan cerulit. Oay yang perawakannya kekar dapat dengan mudah mengayunkan bambu yang panjang, sehingga cerulit digenggaman lawan dapat terlepas. Lawan yang kehilangan cerulitnya terpaksa harus mundur kebelakang. Oay pun mengambil cerulit lawan yang terlepas.

Diposisi Atam, gear yang awalnya saling beradu sekarang saling melilit, Atam dan lawannya saling tarik menarik tali gear yang melilit. Lawan yang lebih kuat dan lebih cepat menarik tali gear membuat Atam jatuh tersungkur kedapan, dengan sigap lawan langsung mendekati Atam dan melayangkan gear tepat ke bagian kepala Atam.

BLETAAK!!!

Atam masih dalam keadaan tersungkur, gear yang dilayangkan musuh ke kepala Atam terbentur dengan bambu panjangnya Oay. Beruntung Oay cepat menyadari posisi Atam yang sedang terdesak. Oay pun memutar-mutar bambu yang dia pegang sehingga tali gear musuh melilit dibambunya, lalu dengan keras Oay menarik bambunya, untuk kedua kalinya Oay berhasil mengambil senjata lawan. Lawan pun mundur kebelakang. Oay membantu Atam berdiri dan kita bertiga mundur kebelakang untuk merapikan posisi masing-masing.

Saat gue lagi berjalan kebelakang tiba-tiba ada gear melayang dari kudu lawan ke arah gue. Gue pun kaget dan untungnya bisa menghindari gear tersebut. Gue teriak ke pihak lawan.

"WOOII ANJING!, GUE KAGA IKUTAN, GUE CUMA NGEREKAM DOANG!", marah gue.

"Eh sorry-sorry gue engga tau", jawab pihak lawan.

Setelah kedua kubu bersiap-siap, lalu mulai saling menyerang lagi. Kini pertempuran semakin sengit, gue pun semakin fokus merekam sambil mengawasi situasi sekitar, takutnya ada serangan nyasar lagi ke arah gue.

BLENTRANG!

TAK!

TAK!

JEBRET!

Semua senjata saling beradu. Beberapa dari pihak musuh ada yang terkena tebasan senjata tajam, begitu juga dengan pihak Atam. Kendaraan yang melaju ke arah pertempuran pun harus memutar balik agar tidak ikut terkena serangan. Setelah cukup lama pertempuran berlangsung, tiba-tiba dari barisan belakang lawan berlari sambil berteriak.

"KABUUR...KABUUR, ADA BANYAK WARGA DI BELAKANG"

Pertempuran terhenti sesaat, pandangan semua orang fokus ke arah datangnya warga, dari kejauhan jalan ternyata ada banyak warga yang datang untuk membubarkan tawuran. Seketika kita lari berhamburan, dalam situasi seperti itu tidak ada kawan maupun lawan yang terpenting selamatkan diri masing-masing.

Tepat disamping kanan gue ada gang yang menuju ke komplek perumahan deket kampung gue. Karena gue tau jalan tersebut, tanpa memperdulikan yang lain gue langsung lari masuk ke gang. Berlari terus masuk ke dalam komplek perumahan, ambil jalan pintas agar tidak terkejar oleh warga, beberapa teman ada yang mengikuti gue. Gue dan teman-temen yang kabur searah dengan gue berhenti dan bersembunyi di depan warung sayur yang sudah tutup.

Sekiranya situasi sudah merasa aman gue ngajak temen-temen yang dibelakang gue buat balik ke rumah, pas gue lagi melihat ke arah mereka dan mengajak pulang, sontak gue langsung merasa kaget, jantung pun berdebar kencang, ternyata yang lari kabur bersama gue bukan temen gue melainkan musuh tawuran Gue.

"MAMPUUUUSSS, MATI DIKEROYOK DAH GUE!", ucap gue dalam hati.

Mereka semua menatap ke arah gue. Gue pun menatap ke arah mereka sambil memikirkan cara agar bisa pulang dengan selamat. Sekujur badan gue terasa membatu melihat mereka semua yang tengah menatap gue dengan senjata tajam ditangannya, ada yang memegang cerulit, samurai, dan gear. Harus memikirkan cara terbaik agar bisa terlepas dari mereka. Salah ucap sedikit bisa pindah ke akherat gue.

Akhirnya terfikirkan cara agar terlepas dari mereka.

"Bro untuk sekarang kita kesampingkan dulu nih tawuran kita, sekarang yang terpenting kita engga ketangkep sama warga dan bisa pulang dengan selamat", ucap gue ke mereka.

"Iya bang setuju", serentak mereka menjawab.

"Laah langsung setuju, ampuh juga bujukan gue, xixixi", gumam dalam hati.

"Yaudah kalian pada balik gih".

"Kita engga tau bang jalan keluar dari sini"

"Kalian jalan aja terus ke jalan yang arah sini, nanti keluar-keluar di jalan besar", arahan Gue ke mereka.

"Eh tapi kalian jalannya jangan barengan semua, bertiga-tiga aja, terus itu senjatanya simpen dulu aja di bawah keranjang sayur biar engga ketauan kalau pas-pasan sama warga", sambung gue.

Entah mereka yang polos atau sedang merasa takut, semua ucapan gue diikutin oleh mereka semua. Semua senjata dikumpulkan dan disimpan di bawah keranjang sayur, mereka pun mulai pergi bertiga-tiga, setelah mereka bertiga dirasa sudah berjalan cukup jauh, lalu disusul oleh ketiga temennya yang lain dan begitu seterusnya sampai mereka semua pergi.

Akhirnya gue bisa bernafas lega dan merasa aman. Gue yang tidak melewatkan kesempatan, langsung mengambil semua senjata tajam yang mereka simpan di bawah keranjang sayur, dengan cepat gue langsung pergi ke jalan yang berlawanan dengan mereka, jalan pulang ke arah rumah gue.

Keesokan harinya, kita berkumpul kembali dirumah Atam, alhamdulilahnya engga ada dari pihak kita yang tertangkap oleh warga. Sambil menunjukkan hasil jarahan senjata tajam semalem, gue menceritakan kejadian dari mulai kabur dikejar warga sampai bisa dapat senjata tajam sebanyak ini. Atam dan temen-temannya yang sedang mendengar cerita gue seketika semuanya tertawa ngakak sejadi-jadinya. Mereka menganggap kejadian yang gue alami semalem itu lucu, padahal kan dimomen itu nyawa gue dipertaruhkan. Bangke banget emang mereka semua.

Gue kapok ikut tawuran lagi, mau nanti diminta jadi kameramen kek, jadi hakim garis kek, jadi panitia penyelenggara kek, pokoknya engga mau lagi gue ikut-ikutan tawuran. Kapok sekapok-kapoknya.

Sesosok Wanita di Stasiun Kereta

Sesosok Wanita di Stasiun Kereta

Hari itu gue pulang kerja agak telat, kira-kira pukul enam sore karena masih ada kerjaan di kantor. Pulang kerja nebeng sama seorang teman yang jalur pulangnya searah dengan gue lalu gue turun di depan Stasiun Kereta Duren Kalibata melanjutkan perjalanan pulang ke Bogor dengan naik kereta api dari Stasiun Duren Kalibata, sendirian.

Sesampainya di dalam stasiun kereta, gue duduk di bangku yang disediakan untuk menunggu kereta datang. Sembari menunggu kedatangan kereta yang arah ke Bogor gue sambil memainkan HP. Ketika tengah asik memainkan HP dari arah depan ada seorang wanita yang berjalan mendekat ke arah gue, karena sedang memainkan HP gue jadi enggak terlalu fokus memperhatikan wanita tersebut, yang gue tau wanita itu mengenakan rok panjang dan kemeja lengan panjang. Gue gak melihat wajahnya.

Wanita itu duduk tepat disebelah kanan gue, soktak gue merasa kaget dan curiga. Bangku yang sedang gue duduki itu muat untuk diduduki oleh empat orang dan dibangku itupun hanya gue yang menempatinya, namun wanita itu duduknya sangat mepet dengan badan gue. Padahal space bangku yang gue duduki masih cukup lega jika diduduki oleh dua orang.

"Kok duduknya mepet banget sih ini cewek?"

"Ini cewek mau ngapain ya?"

"Cewek ini ko ganjen sih!"

"Waduh jadi nervous duduk nempel gini sama cewek"

Dan banyak lagi pertanyaan dalam benak fikiran gue

Walau si cewek itu duduk disebelah kanan gue, gue tetep stay cool pura-pura sibuk mainin HP. Tapi lama kelamaan rasa penasaran pun meradang, pandangan fokus ke layar HP tapi mata gue ngelirik ke kanan bawah, terlihat telapak tangannya yang putih bersih. Lalu ketika gue coba ngelirik ke wajahnya ternyata dia sedang ngelihat ke arah kiri yaitu ke arah gue jadi gue enggak ngeliat jelas wajah si wanita tersebut karena takut ketahuan kalau gue lagi ngeliriknya, gue pun langsung ngelirik ke HP lagi.

Gue beranggapan bahwa wanita itu lagi nunggu  kedatangan kereta tujuan Bogor yang datang dari arah kiri.

Kereta pun belum datang, gue pun menengok ke arah kiri, arah datangnya kereta namun kereta belum kelihatan juga. Gue pun lanjutin mainin HP. Tapi ada yang aneh, si wanita yang disebelah kanan gue masih memandang ke arah kiri, padahal kereta belum juga datang. Lantas apa yang sedang dia lihat?. Lanjut mainin HP dengan perasaan enggak enak karena pandangan si wanita ini enggak berubah arah. Dengan rasa penasaran gue coba beranikan diri buat menoleh melihat wajah si wanita tersebut.

Alangkah kagetnya, ketika gue melihat wajah wanita tersebut, ternyata yang sedang dia lihat bukan kedatangan kereta melainkan wajah gue. Selama ini wanita itu melihat wajah gue. Gue dan si wanita itu saling menatap. Menatap gue dengan ekspresi wajah yang datar. Wajahnya sih cantik tapi menurut gue cewek ini freak!.

Karena gue ngerasa malu, seketika gue pun memalingkan pandangan ke bawah, lalu gue lihat kakinya yang putih mulus dan bersih namun setelah dilihat baik-baik ada yang ganjil dari kaki si cewek tersebut, dibalik keindahan kakinya ternyata kuku-kuku kaki wanita ini tumbuh sangat panjang dan tidak rapih. Gue pun jadi berfikiran kalau si cewek ini jorok.

Gue merasa ilfiil.

Tidak lama kemudian, terdengar suara informasi dari stasiun bahwa kereta tujuan Bogor akan segera tiba. Memasukkan HP ke kantong celana, beranjak dari tempat duduk dan bergegas berjalan ke peron kereta, menjauh dengan si wanita aneh itu.

Kereta pun tiba. Pintu kereta terbuka, sebelum masuk ke dalam kereta gue pun menoleh ke belakang ke arah wanita tersebut. Wanita itu pun masih duduk terdiam dengan pandangan menunduk kebawah. Seketika setelah gue masuk ke dalam kereta gue pun membalikkan badan dan melihat ke arah wanita tersebut.

Soktak gue merasa kaget, karena yang gue lihat hanya bangku kosong, tidak ada seorang pun yang duduk di tempat duduk tersebut. Gue coba memastikan keberadaan wanita tersebut dengan melihat ke arah kanan dan kiri sepanjang stasiun kereta, namun tetap tidak menemukan wanita tersebut.

Gue merasa was-was dan takut. Bertanya-tanya dalam benak fikiran, kemana kah wanita tersebut?.

Pintu kereta pun tertutup dan kereta melaju meninggalkan stasiun.

Bulu kuduk gue pun berdiri, gue masih merasa takut dan tidak percaya dengan kejadian tersebut.

"Apakah wanita tadi itu beneran manusia atau makhluk yang menyerupai manusia?"

"Kenapa gue gak curiga kalau wanita tadi bukan manusia?"

"Kenapa mesti gue yang ngalamin?"

Entahlah, gue pun masih merasa enah plus merinding akan kejadian tersebut.

Kabar Gembira dari Kawan Lama

Kabar Gembira dari Kawan Lama

Siang kemarin, ketika sedang bekerja, handphone yang ada di depan gue berdering, sepertinya ada chat WhatsApp yang masuk, segera gue ambil dan cek handphone, ternyata chat WhatsApp yang masuk tersebut dari seorang kawan lama, kawan ketika di SMK, Baron namanya.

Isi dari chat WhatsApp tersebut dia menanyakan perihal keberadaan gue sekarang dan mengajak gue untuk datang kerumahnya, karena dirumahnya sedang ada Alfian, salah satu kawan lama juga ketika di SMK. Gue pun membalas chat tersebut dengan berjanji akan datang ke rumahnya sepulang kerja. Memang kalau difikir-fikir, sudah lama kita tidak berjumpa, kiranya sudah empat bulan lamanya. Padahal biasanya ditiap hari minggu kita selalu berkumpul bersama, entah itu di rumah gue, di rumah baron, ataupun di rumah alfian yang jelas kita berkumpul bersama, selalu ada keseruan tersendiri ketika kita berjumpa, walau kita hanya bertiga bukan menjadi tolak ukur keseruan yang kita dapati.

Namun, ketika jam pulang kerja tiba, gue mengingkari janji untuk datang ke rumah Baron dengan alasan sedang lembur kerja. Bukan karena gue engga mau ketemu sama mereka tapi karena gue lagi sariawan. Yaa, sariawan. Kalau gue udah sariawan rasanya badan tuh lemes banget, terlebih badan gue merasa panas, pengennya tuh rendemin badan di air es. Karena ketika gue sariawan bukan hanya ada 1 melainkan 2 atau lebih sariawan yang gue alami dan sariawan yang paling bikin sakit serta perih adalah sariawan di lidah, rasanya tuh uuuhhhh ampuuun deh! dan itu yang sedang gue rasain. DAMN!

KAMP****T!

Sepulang kerja gue langsung tepar tiduran di kamar, menginstirahatkan diri sambil memainkan handphone, ternyata ada chat masuk dari Baron, setelah gue baca chatnya, Booom!, sontak gue terkejut, senang dan bahagia bercampur aduk. Dari chat tersebut ada "kata" yang bisa merubah mood gue, menghilangkan rasa lelah bekerja dan mengacuhkan rasa perih serta sakit dari sariawan yang sedang gue alami. "Kata" tersebut ialah ...

"SEBULAN LAGI ALFIAN MENIKAH"

Gue langsung balas chatnya bahwa gue akan datang ke rumah Baron ba'da Magrib. Gue langsung bergegas mandi, setelah solat Magrib gue langsung berangkat. Disepanjang perjalanan, gue cuma bisa senyum-senyum sendiri, gak nyangka kalau Alfian tiba-tiba mau menikah, karena setau gue dia rencana menikah itu tahun depan, itupun belum tau bulan apanya. Dalam hati gue hanya bisa terucap "Ahh kampret gue dilangkahin sama si Anen (Anen = nama bapaknya Alfian) padahal rencana yang mau menikah duluan adalah Baron."

Engga sabar pengen ketemu mereka berdua, gue pacu sepada motor dengan cepat. Kurang lebih 30 menit gue sampe dirumahnya Baron, sesampai di rumah Baron ternyata Alfian engga ada, katanya dia pulang dulu mau periksa mata ke optik dan akan balik lagi setelah selesai dari itu. Gue pun menunggu. Sambil menunggu gue pun bertanya-tanya sama Baron persoalan Alfian yang mau menikah, ternyata Baron tau soal pernikahan itu dari Instagram pacarnya Alfian. Dia melihat foto "Seserahan" keluarga Alfian dikediaman pacarnya. Sambil menunjukan fotonya gue masih merasa engga nyangka tapi apa yang gue liat itu adalah kenyataan. Dalam hati gue terus ngedumel

Wuanjir...anjiiir!
Alfian...sebentar lagi
Lu bakal "memprek" anak orang
Kampret...preet!
Gue juga pengen

Lama pisan gue nunggu Alfian buat balik lagi ke rumahnya Baron. Gue coba chat WhatsApp, ceklis satu, Baron coba telpon, engga nyambung. Kita curiga kalau Alfian lagi ada di rumah pacarnya, karena di rumah pacarnya memang susah sinyal, seperti ada ditempat yang tidak bisa ditembus oleh sinyal apapun atau bahasa latinnya itu "leuweung imah sia mah". Nah itu. Kira-kira jam setengah sepuluh malam Alfian chat WhatsApp ke gue, isi chatnya dia engga bisa balik lagi ke rumah baron karena capek.

Aaahh Kampret!

Padahal gue buru-buru berangkat dari rumah ke rumahnya Baron buat ketemu dia, nanya-nanya soal pernikahannya bulan depan, persiapan apa aja yang udah dia siapin buat hari H dan malam pertamanya; udah siapin tissue magic kah?, siapin dildo kah? karena maklum takut baru bless langsung lemes kan kasian istrinya. Yaa semuanya kudu dipersiapkanlah, buat jaga-jaga gitu.

Akhirnya karena sudah larut malam, gue putusin buat menginap dirumah Baron, gak mungkin gue balik kerumah, takut dibegal, dan itu artinya besok gue engga masuk kerja. Fix gue bolos kerja, siapin alasan buat kabarin ke atasan. Done!.

Pause

Ada keanehan yang gue rasakan ketika gue sampai di rumahnya Baron, sesuatu yang tidak biasa. Ternyata kabar Alfian akan segera menikah membuat Baron menjadi sakau; cakar-cakarin monitor PC, jilat-jilatin dinding, tragis memang. Dia merasa dilangkahi duluan, maklum karena diantara kita bertiga Baronlah yang paling TUA, yaa umurnya berbeda dengan gue dan Alfian, dua tahun lebih tua diatas kita. Sehingga nama panggilannya pun berubah, nama aslinya Dedi Supriadi, nama panggilan umum Baron, Nama panggilan khususnya Abah. Dia paling sepuh diantara kita bertiga.

Baron merasa tidak terima dilangkahi oleh Alfian, karena awalnya susunan antrian menikah yang sudah kita sepakati adalah BAI (Baron > Alfian > Ikhsan) tapi ternyata Yang Maha Kuasa berencana lain. Sekarang susunan antrian pernikahannya menjadi ABI (Anfian > Baron > Ikhsan). Mau BAI ke, ABI ke tetep weh aing mah pang bucitna. Assuudahlaah!

Keanehan lainnya adalah untuk pertama kalinya seorang Baron cerita masalah percintaannya tanpa gue korek-korek terlebih dulu. Dia bercerita panjang lebar, dan inti dari ceritanya adalah dia dan pacarnya akan segera menikah juga, tepatnya bulan Januari 2019 dia rencana untuk menikah. BOOOM!!!...BOOOM!!!...BLEGEEER!!!. Gue seperti tersambar gledek!. Ada apakah dengan hari ini? kenapa rasanya gue jadi terenyuh campur senang ketika mendengar kata itu. Ini nyatakan? coba tabok muka gue!

Memang sekarang susunan antrian nikahnya menjadi ABI (Alfian > Baron > Ikhsan) tapi kan yaaa engga secepat itu kalian harus melepas status bujang dan menjadikan gue sebagai satu-satunya yang berstatus bujang, kalau kelamaan nanti jadi bujang lapuk bau hapeuk.

"KALIAN TEGA!, UDAH AH ENGGA MAU MAEN BARENG LAGI!"

Keesokan harinya, Alfian datang ke rumah Baron dan dia menceritakan soal pernikahannya yang akan dilaksanakan kira-kira satu bulan lagi. Gue cuma manggut-manggut dengerin dia cerita udah kaya ngasih ceramah ke anak Paud. Dan akhir dari kabar gembira ini membuat diri gue lebih tertantang untuk cepat lulus kuliah, karena itu menjadi patokan gue untuk menikah. 1 hari menunda kelulusan sama dengan 1 hari menunda pernikahan. Asik.

Gue pun berpesan kepada Alfian jika nanti menjadi suami, jadilah imam yang baik untuk keluarganya dan jangan lupa videoin pas malem pertama. Semoga rencana menikah kedua kawan lama gue ini berjalan lancar hingga hari H, tidak ada halangan ataupun hambatan dalam prosesnya. Doakan juga agar gue disegerakan untuk menikah di tahun 2019.

#2019 Ganti Status
#2019 Menikah

Ngawas Ujian

Ngawas Ujian

Selesai liburan akhir tahun kini waktunya gue kembali ke aktivitas seperti biasa yaitu bekerja. Tapi berbeda dengan mahasiswa ditempat gue bekerja, setelah selesai liburan akhir tahun mereka mesti masuk kuliah untuk menghadapi ujian akhir semester. Do you know they feel?, I know that, gue pun pernah ngalamin hal serupa, karena gue pernah jadi mahasiswa. Liburan hanya beberapa hari dan setelahnya masuk kuliah langsung ujian, rasanya itu seperti diajak ketemuan sama gebetan taunya cuma mau ngasih undangan pernikahannya. Sakit tapi enggak berdarah!.

Ujian akhir semester ini gue kepilih lagi menjadi salah satu pengawas ujian, ya memang biasanya sih kalau waktunya ujian pasti selalu kepilih jadi salah satu pengawas. Selama gue jadi pengawas ujian, gue selalu memperhatikan raut wajah setiap mahasiswa yang masuk ke ruang ujian, pengen tau aja ekspresi mereka ketika ujian sudah didepan mata, apalagi kan ini momennya masih tahun baru jadi masih pada bau petasan gitu deh. Diantara mereka ada yang ekspresi wajahnya gembira, mungkin dia sudah mempersiapkan diri untuk menghadapi ujian dan waktu liburannya pun mungkin dia bersenang-senang, seperti menyulut petasan lalu bakar-bakar jagung bersama keluarga atau teman-temannya. Ada yang ekspresinya biasa aja dan ada juga yang ekspresi wajahnya muram, kusut, lemes, anemia kali ya? tapi kayanya sih tetep di malam tahun barunya dia bakar-bakar juga, bakar-bakar foto mantan, nangis sambil pelukin guling dikasurnya. Tragis banget mblo.

Gue ngawas ujian enggak sendirian tapi ditemenin oleh satu pengawas lainnya dan juga dengan dosen matakuliah yang diujiankan jadi totalnya ada tiga orang pengawas, mati kutu dah pada enggak bisa nyontek. Karakter tiap dosen saat ditempat ujian pun berbeda-beda, ada yang sibuk sendiri dengan gadgetnya sehingga enggak terlalu memperhatikan mahasiswa yang sedang ujian, ada juga dosen yang "killer", dari pengaturan posisi tempat duduk benar-benar diatur sampai mahasiswa yang mencoba mencontek dengan segala cara pun selalu ketauan, kalau dijaman gue sih dosen kaya gini julukannya "Si mata elang", namun dari semua dosen pengawas ujian yang paling dinanti-nantikan oleh semua kaum duafa contekan adalah dosen yang ngawasnya hanya beberapa menit dan selebihnya menghilang entah kemana, balik lagi pas waktu ujiannya selesai. Iya kan? ngaku aja deeh!.

Selain dari dosen pengawas, tipikal dari peserta ujiannya pun berbeda-beda, mereka memiliki tingkatan yang berbeda-beda pula, dari yang newbie, pro, sampai yang legend semuanya mempunyai passion tersendiri.

Peserta yang newbie, mereka selalu mencari tempat duduk yang aman dari jangkauan penglihatan pengawas, posisinya kalau enggak di pojok tengah pasti dibangku paling belakang dan juga duduknya berdekatan dengan temannya yang pintar, kalau memang kebagian duduk paling depan yaudah itu lagi apes berarti.

Peserta yang pro selalu percaya akan kemampuannya sendiri, mereka duduk paling depan tanpa menghiraukan yang lain walau itu teman sebelahnya dan mengerjakan soal dalam waktu yang tidak terlalu lama.

Peserta yang legend, peserta ujian yang satu ini adalah yang paling keren dari semua tingkatan, ketika ujian sedang berlangsung mereka hanya diam saja sambil memainkan pulpennya, ada juga yang tertidur, sementara kertas jawabannya pun masih kosong, namun setelah waktu ujian mendekati akhir tidak lama kertas jawaban mereka sudah lengkap terisi. Sungguh peserta ujian yang legend.

Dari ketiga tingkatan yang sudah disebutkan, kira-kira kalian yang mana?

Persoalan contek mencontek, mau itu ujian atau ulangan atau kuis atau apalah itu namanya pasti tidak luput dari tindakan mencontek, gue pribadi waktu masih kuliah kadang juga mencontek pas lagi ujian, enggak kadang juga sih tapi sering. Hehehe. Jujur aja sih gue mah dari pada bohong. Berdasarkan dari pengalaman gue yang sering nyontek, gue jadi paham alibi-alibi cara mereka mencontek, ada yang mencontek dengan cara melirik-lirik jawaban teman sebelahnya, ada yang pura-pura pinjem alat tulis temennya, ada yang komat-kamit kaya dukun santet, ada juga yang membuat contekan dikertas. Yaelaah semuanya itu cuma trik klasik yang pernah gue coba, udah khatam gue trik kaya gitu mah. Namun di jaman now cara mereka mencontek jadi lebih canggih, yaitu dengan membuka smartphone, dengan begitu mereka lebih leluasa mencari jawaban dengan bantuan mbah google.

Sebagai pengawas ujian, gue harus sigap dan cepat tanggap jika melihat peserta ujian yang mencurigakan. Mata harus tetap awas melihat pergerakan. Ini memang bukan perang melainkan amanat yang mesti dilaksanakan, tapi kalau ada yang nyontek lirik-lirik dikit mah yaa gue maklumlah, nyadar diri soalnya dulu pun gue suka susah nyontek kalau pengawasnya terlalu jeli, asal enggak saling lirik-lirikan terus senyum-senyuman, terus diem-dieman, eeh ternyata udah jadian. Janganlaah... jangan ya, kasian entar guenya ikutan baper.

Selain mengawasi adek-adek mahasiswa yang imut-imut dan amit-amit yang sedang ujian, terkadang ada beberapa motif lain yang pengawas lakukan saat ujian berlangsung, pengen tau?

Pengen tau aja atau pengen tau banget?
Pengen tau benget... banget... banget... BENGEUT!

Salah satu motif yang dilakukan pengawas ujian yaitu mencari dan menandai adek mahasiswi yang cantik-cantik, nah biasanya pengawas cowok yang sering kaya gini, matanya jelalatan, enggak bisa diem liat-liatin adek mahasiswi yang cantik, pura-pura cek soal ujiannya padahal cuma pengen tau namanya doang, terus di stalking di Instagram. Selain itu ada juga pengawas yang bermotif sebagai penyambung hidup, dan menurut gue motif ini wajar-wajar aja sih, kita ngawas mahasiswa ujian gak serta-merta hanya nyawasin aja tapi juga dibayar, ada uang lelahnya, walau bayarannya enggak terlalu besar dan terlalu kecil tapi lumayanlah buat makan siang cukup untuk 2-3 hari. Diantara motif barusan menurut elu gue yang mana? tebak!.

Sebagai pengawas ujian, gue berpesan untuk adek-adek mahasiswa yang sedang melaksanakan ujian akhir semester, semangat terus jangan dikasih kendor, banyak-banyak berdoa agar dimudahkan ujiannya, ditingkatkan lagi waktu belajarnya, distop dulu maen game onlinenya (pasti bacanya sambil melotot), persiapkan alat tulis seperlunya, dan selamat mengerjakan. 😊
Lu kan Anak IT

Lu kan Anak IT

"LU KAN ANAK AYTI"
"LU KAN ANAK AAYYTII"
"LU KAN ANAK AAAYYYTIII"
"MASA GITU AJA GAK BISA"

Bukan, gue mah anak emak gue, siapa bilang gue anak mpok ayti? fitnah lu!.

"LU KAN ANAK AYTI", Kata-kata tersebut adalah kata pamungkas yang biasanya diucapkan ketika ada seseorang meminta bantuan kepada anak IT yang bersangkutan dengan teknologi. Udah enggak aneh kan lu denger kata-kata tersebut? atau mungkin malahan setiap hari kata-kata itu selalu menari-nari di telinga lu. Seperti mendengar janji-janji manisnya si dia yang selalu diingkari. Enggak aneh!.

Sah-sah aja sih kata-kata itu diucapkan untuk minta bantuan ke temen lu wong bibir lu sendiri yang ngomong bukan bibir gue. Tapi seenggaknya lu harus paham tentang batasan-batasan dari anak IT tersebut. Banyak orang yang mengsalahartikan bahwa anak IT itu menguasai semua yang berbau IT, namun nyatanya enggak semua orang benar-benar menguasai dalam bidang IT, mungkin saja ada beberapa. IT itu cakupannya luas, ada bagian-bagiannya, ada jurusan-jurusannya, seperti waktu di SMK kan ada jurusan-jurusannya seperti jurusan multimedia, jurusan RPL (Rekayasa Perangkat Lunak), dan Jurusan TKJ (Teknik Komputer Jaringan). Nah semua jurusan tersebut adalah bagian dari IT.

Contohnya gini, lu punya temen, dia anak IT tapi basicnya multimedia, terus lu suruh bikinin website pake framework CodeIgniter. Menurut lu apa temen lu bisa bikinnya? kalau bisa sih alhamdulilah mungkin dia menguasai tapi kalau kaga? bisa berak dicelana tujuh hari tujuh malem tuh temen lu. Malahan bisa jadi temen lu nyangka CodeIgniter tuh sebuah makanan, "CodeIgniter tuh enak ya dimakannya?". Mampus! sintax error.

Terkadang yang bikin gue kesel sama orang yang minta tolong itu adalah kata-kata menyepelekannya itu loh. Seolah masalahnya itu mudah dan cepat untuk diselesaikan. "Kok cuma bersihin virus aja lama sih, sampe sejam gini!", "Tolong install ulang windows saya sama aplikasi-aplikasi lainnya, sejam lagi mau saya pake!", kata-kata seperti itu yang membuat anak IT geleng-geleng kepala sampe goyang dada. Mereka hanya ingin tau outputnya saja tanpa mau memahami prosesnya.

Gue pernah nemuin kasus semacam itu, malah bisa dibilang lebih "gila" lagi kasusnya. Seperti yang dialami temen gue yang anak IT juga, di tempat kerjanya dia disuruh oleh atasannya memasang jaringan internet padahal basicnya bukan dibagian jaringan dan atasannya itu kepengen kabel yang dipasang harus berada disisi luar gedung, dengan alasan agar tidak mengganggu estetika keindahan didalam gedung. PARAAAH!. dikiranya temen gue ini spiderman kali ya?, selain itu atasannya memberikan opsi lain yaitu dengan melubangi lantai gedung ke lantai bawah karena switch server gedung berada di bawah. AANJIIIR! kudu nyewa jasa Hulk tuh kayanya. Gue jadi curiga kalau atasan temen gue ini adalah salah satu anggota Avenger.

Lu bayangkan 4 lantai yang harus dilubangi dan terlebih lagi gedung yang ditempatinya itu adalah gedung milik departemen lain, bukan gedung milik tempat temen gue kerja alias numpang. Gue yang dengernya juga kesel, pengen banget gue cangkok tuh kepala atasannya temen gue.

Gue juga pernah ngalamin kejadian seperti itu, tapi enggak separah temen gue sih. Ditempat kerja, gue pernah disuruh benerin jaringan listrik karena ada jaringan yang korslet. Gue yang sama sekali gak paham soal listrik ya angkat tangan dong, gemeteran gue kalau soal perlistrikan takut kesengat listrik, jangankan benerin listrik, megang tangan kamu aja aku gemetaran. Eeh gue malah dibilang "Lu kan anak IT, masa benerin jaringan listrik aja gak bisa". Gue coba jelasin ke itu orang kalau jaringan internet sama jaringan listrik itu beda tapi tetep aja kekeh kalau anak IT juga paham soal jaringan listrik. Setelah denger kata itu pengen banget rasanya gue strum udelnya tuh orang. Emosi gue!.

Gue sendiri berkecimpung dalam bidang IT, sejak di SMK gue ambil jurusan Multimedia lanjut masuk kuliah ambil jurusan Manajemen Informatika dan sekarang bekerja dibagian jaringan komputer. Namun walau gue pernah mencicipi ketiga bidang IT tersebut bukan berarti gue menguasai semuanya, gue cuma tau sedikit tentang banyak, ya alhamdulilah lah kalau ada masalah soal desain, program atau jaringan kadang gue paham, kalau misal masalahnya gue kuasai ya gue selesaiin sendiri tapi kalau gak bisa sih biasanya gue minta tolong sama om google atau kalau udah mentok minta batuan sama temen yang paham dibidangnya. hehe. Bukan maksud gue mau sombong but that's just information, toh ilmu gue dibidang IT masih cetek ko, masih setainya tai upil.

Jadi buat kalian semua yang punya temen dibidang IT kalau mau minta tolong pahami dulu basicnya temen lu tuh dibagian apa. Dibagian Multimedia kah?, dibagian perangkat lunak kah? atau dibagian jaringan dan juga tanya kira-kira berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya, jangan seenaknya memberikan deadline.

Tapi dilain sisi, kita sebagai anak IT juga harus berterima kasih kepada mereka semua, tanpa mereka kita tidak akan pernah mencoba hal-hal baru, merasakan kesulitan baru, dan mendapatkan gebetan ilmu baru. Walau terkadang dalam prosesnya mendapati cacian atau singgungan yang tidak enak dihati namun semua itu adalah pembelajaran yang sangat berarti.

Tempat Kerja yang Horor

Tempat Kerja yang Horor

Based on true story
Hari senin tepatnya pada tanggal 1 Desember 2014 adalah hari pertama gue kerja. Gue kerja sebagai Layout jurnal editor & IT Engineering di Departemen Biokimia IPB dengan status pegawai honorer, tempat gue bekerja di lantai 5 yaitu lantai paling atas. Ruangannya pun berbeda dengan ruangan pegawai yang lain, terpojok di sudut gedung, lembab, sendirian, terasingkan. Gue terkesan saat pertama kali ditunjukkan ruang kerja gue, ruangannya cukup besar namun penuh dengan debu, barang-barang rusak, tumpukan buku lapuk dan dinding yang dihiasi dengan tirai jaring laba-laba, Sekilas mirip gudang penyimpanan barang bekas tapi apa daya yang gue lihat adalah ruang kerja gue sendiri.

Baru tiga hari gue bekerja, disuatu malam saat gue tidur, gue bermimpi ada seseorang yang menuntun gue mengajak kesuatu tempat, di dalam mimpi itu gue lagi ada di tempat kerja. Seseorang tersebut menuntun ke ruangan yang dihuni oleh makhluk halus. Pertama dia mengajak ke ruang kerja gue, ditunjukkannya tempat makhluk halus itu yang berada di pojok kanan belakang meja kerja, Sesosok wanita barpakaian putih kumal dan berambut hitam panjang. Setelah itu gue diajak ke dua tempat lainnya yang berpenghuni makhluk halus yaitu ke ruangan pelayanan mahasiswa S1 dan ruang sekretaris departemen. Selepas dari mimpi itu setiap di tempat kerja gue jadi merasa ketakutan sendiri, kerja pun merasa engga nyaman. Hingga suatu ketika gue ngalamin kejadian yang ganjil.

Suara tawa perempuan dan ketukan jendela
Ini adalah kejadian horor yang pertama, saat gue tengah sibuk dengan kerjaan, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari jendela ruang kerja gue. Kejadian tersebut kira-kira jam dua siang, dan sudah biasa pada jam tersebut di tempat kerja sudah pada sepi karena mahasiswa yang biasa nongkrong di kantin dekat ruang kerja gue sudah pada pulang. Diawali dengan suara ketukan pada jendela "Tuk...tuk...tuk", gue noleh ke belakang ke arah jendela, engga ada apa-apa dan gue anggap biasa saja, namun engga lama saat gue kembali bekerja bukan lagi suara ketukan jendela melainkan suara perempuan tertawa dari arah jendela yang sama. Mendengar suara tawa tersebut seketika bulu kuduk gue berdiri, pengen lihat ke arah jendela tapi takut muncul sesosok yang tidak ingin gue lihat namun akhirnya gue beranikan diri untuk melihatnya. Gue deketin ke arah jendela dan gue buka jendelanya, tidak ada apa-apa. walau demikian gue tetap merasa ketakutan karena tidak mungkin ada seseorang di balik jendela ruang kerja gue sebab ruangan gue ada di lantai 5 dan kalau jendela di buka langsung terlihat ke lantai 1.

Suara tangisan di samping pintu ruang kerja
Seperti biasa, kejadian ini terjadi pada jam dua siang ke atas. Saat itu gue sedang kerja, di kantin pun masih ada beberapa mahasiswa yang sedang memesan makanan. Terlihat ada seorang mahasiswi yang berjalan ke arah ruangan kerja gue, dia duduk di bangku yang ada di samping depan pintu ruangan, tidak lama saat dia duduk terdengar suara isak tangis dari mahasiswi tersebut, saat gue mendengar tangisannya, gue berfikir mungkin mahasiswi yang menangis itu sedang ada masalah dengan temannya atau dengan  dosennya atau mungkin ada kabar duka dari keluarganya, entahlah. Awalnya gue diemin namun lama kelamaan gue merasa simpati juga dan merasa kasihan, gue coba untuk menghampirinya , saat gue di depan pintu dan melihat ke arah bangku yang berada di samping pintu ruangan, gue merasa terkejut dan takut karena di bangku tersebut tidak ada seorang pun yang mendudukinya, siapa yang barusan duduk dan menangis di bangku tersebut? entahlah, pertanyaan dan rasa ketakutan menggumpal dalam fikiran, gue beranikan diri untuk kembali bekerja.

Nyanyian nike ardilla saat komputer tidak menyala
Kebiasaan gue saat sedang bekerja yaitu mendengarkan musik dan musik yang selalu gue dengarkan adalah lagu dari alm. nike ardilla, suara khas serak-serak tak berdaya yang membuat gue tenggelam dalam setiap lirik yang dinyanyikannya.

Mengapa kau nyalakan api
Cinta di hatiku
Membakar jiwa yang merana
Kata manismu
Membuatku yakin kepadamu
Hingga membuatku terlena
.....

Lagu dengan judul sandiwara cinta yang menjadi salah satu lagu favorit gue, diputar berulang-ulang. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul setengah empat sore, awan sudah gelap, mendung pertanda sebentar lagi akan turun hujan, gue niatin untuk pulang kerja lebih awal karena pegawai yang lain pun sudah pada pulang, kantin sudah tutup, tidak ada mahasiswa seorangpun, sepi mencekam. Sebelum pulang gue sempetin untuk solat ashar, gue solat di mushola yang berada di depan ruang kerja gue, jaraknya kira-kira gue loncat juga langsung sampe. Komputer dimatikan dan bergegas untuk solat. Ketika sedang solat, gue mendengar suara lagu nike ardilla yang terakhir kali gue dengerin sebelum komputer dimatikan, suara lagu itu berasal dari ruang kerja gue. "Siapa yang menyetel lagu disaat tidak ada seorangpun ditempat kerja?", "Ruang kerja udah gue kunci dan gak mungkin ada orang yang masuk?", "Komputer udah gue matiin, masa bisa hidup sendiri?", pertanyaan silih berganti membuat solat pun menjadi tidak khusyuk, setelah selesai solat gue langsung ke ruang kerja, gue buka pintu yang masih terkunci, lagu nike ardilla pun masih terdengar di dalam, pintu dibuka dan lagunya tidak terdengar lagi, gue lihat ke sekeliling ruangan tidak ada siapa-siapa, merinding disekujur tubuh, dengan cepat gue ambil tas yang masih tersimpan di dalam ruang kerja, suara petir menggelegar membuat gue bergegas untuk pulang.

Masih banyak peristiwa menakutkan  yang gue alamin di tempat kerja, seperti: seorang wanita berpakaian putih lari ke dalam mushola tapi pas gue cek engga ada apa-apa di dalam mushola, pintu kerja gue yang dibanting padahal pintunya udah gue kunci, dan masih banyak, pengen gue tulis itu semua tapi melihat sekarang udah pukul setengah tiga sore dan suasananya pun udah sepi, senyap, gue akhiri sampai sini aja.