Waktu yang Salah (Part 1)
Siang itu hujan turun begitu deras. Seorang lelaki duduk di atas kasurnya yang empuk, memandang ke arah jendela sambil mengepalkan kedua tangannya, menahan air mata yang perlahan jatuh membasahi pipinya. Isak tangis Ulil nyaris tak terdengar, tersamar oleh riuhnya angin yang menyambut hujan. Sekuat apa pun seorang lelaki terlihat tegar, hatinya tetap bisa rapuh ketika tersakiti.
Ulil baru saja berpisah dengan kekasihnya. Bertahun-tahun mereka menjalin hubungan, bahkan sempat berniat melangkah ke jenjang yang lebih serius, namun semua itu harus berakhir begitu saja—seperti kemarau panjang yang sirna oleh hujan sehari. Tak ada yang menyangka hubungan mereka akan berakhir setiba-tiba ini. Teman-teman maupun orang tua Ulil pun masih sulit percaya. Kini, dengan berat hati, Ulil harus merelakan kepergian orang yang selama ini menempati ruang paling istimewa di hatinya.
Sahabat-sahabat Ulil yang mendengar kabar itu tidak tinggal diam. Mereka segera datang menemuinya, mencoba menghibur, sekadar mengingatkan bahwa Ulil tidak sendirian—masih ada mereka yang setia menemani, baik dalam suka maupun duka. Yang datang sore itu adalah Supri dan Adi.
"Sudahlah, Lil, jangan terlalu larut dalam kesedihan," ucap Supri sambil menepuk pelan pundak Ulil. "Yang penting kamu sudah memberikan yang terbaik. Soal dia yang berkhianat, biar waktu yang membalas."
"Iya, Lil. Lagipula masih banyak perempuan baik di luar sana," sambung Adi menimpali. "Jangan berkecil hati, pasti ada yang lebih baik untukmu nanti."
"Oh iya, kemarin aku sempat mengobrol dengan adik kelas kita di Messenger," lanjut Adi. "Yang dulu suka sama kamu, masih ingat?"
"Siapa? Dea, bukan?" tanya Ulil pelan.
"Iya, Dea. Sekarang dia sudah berubah banyak, tambah cantik. Coba saja kamu dekati lagi," jawab Adi.
"Nanti aku mintakan nomor WhatsApp-nya, biar kukirim ke kamu," sambung Adi lagi.
Ulil tahu, sahabat-sahabatnya hanya ingin menghiburnya dengan cara mereka sendiri. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Luka yang dirasakan Ulil bukan luka biasa yang bisa sembuh hanya dengan kata-kata penghibur.
Beberapa minggu berlalu. Kini Ulil hanya ditemani sepi. Ponsel yang dulu selalu ramai oleh notifikasi dari kekasihnya kini seperti rumah kosong tak berpenghuni. Dalam kesendirian itu, Ulil teringat kembali pada tawaran Adi. Tanpa berpikir panjang, ia pun menghubungi sahabatnya itu untuk meminta nomor Dea. Tidak lama, Adi membalas.
"Penasaran juga ternyata," canda Adi lewat pesan.
"Ini nomornya. Kalau ada kesempatan, jangan disia-siakan ya," lanjut Adi.
"Baik, terima kasih banyak," balas Ulil singkat.
Ulil tidak ingin terus terjebak dalam kesedihan masa lalu. Ia ingin membuka lembaran baru, meski dengan hati yang masih menyimpan luka. Mungkin, dengan begitu, ia bisa merasa hidup kembali. Setelah menarik napas panjang, ia pun memberanikan diri mengirim pesan pertama kepada Dea, adik kelasnya dulu.
"Halo, De. Apa kabar?"
Satu menit berlalu. Lima menit berlalu. Ulil masih menatap layar ponselnya, berharap balasan datang secepat mungkin. Namun Dea belum juga membalas.
Lima belas menit kemudian, terdengar suara notifikasi. Dengan sigap Ulil membuka pesan itu—benar, balasan dari Dea.
"Maaf, ini siapa, ya?" tulis Dea.
"Ini aku, Ulil, kakak kelasmu waktu SMA," balas Ulil.
"Oh, Kak Ulil. Alhamdulillah kabar aku baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana?" jawab Dea.
Percakapan mereka pun mengalir. Hari itu, ponsel Ulil kembali ramai oleh notifikasi dari Dea. Tanpa disadari, untuk sesaat ia mulai bisa melupakan masa lalunya.
Hari demi hari berlalu, kedekatan mereka semakin terasa meski hanya lewat pesan. Hingga akhirnya Ulil memberanikan diri mengajak Dea bertemu langsung. Tanpa menunggu lama, Dea pun menyetujuinya. Mereka pun menentukan waktu dan tempat.
Hari yang dinanti tiba. Pukul setengah empat sore, Ulil bersiap-siap dengan hati yang dipenuhi kegembiraan. Sebelum pulang kerja, ia merapikan meja kantornya sambil tersenyum kecil. Pukul empat, ia bergegas menuju tempat pertemuan, sambil menyusun beberapa pertanyaan di sepanjang jalan sebagai bahan obrolan nanti.
Setelah setengah jam perjalanan dengan sepeda motor, Ulil pun tiba. Ia memilih meja yang nyaman untuk mereka berdua, lalu mengirim pesan kepada Dea, "De, aku sudah sampai." Namun tidak ada balasan. Ulil menduga Dea masih dalam perjalanan.
Setengah jam berlalu, Dea belum juga datang. Dalam hati Ulil bertanya-tanya, apakah Dea lupa, atau berubah pikiran. Rasa cemas mulai muncul.
Tak lama kemudian, seorang perempuan berpakaian serba hijau datang mengendarai motor Honda Scoopy, memasuki area parkir.
"Apakah itu Dea?" batin Ulil bertanya.
Perempuan itu berjalan pelan mendekat. Benar, itu Dea—perempuan yang sudah ditunggunya sejak tadi. Setiap langkahnya membuat jantung Ulil berdebar semakin cepat. Waktu seolah melambat; senyum tipis di bibirnya, langkah kakinya yang lembut, hembusan angin yang membelai jilbab dan pakaiannya, serta wangi parfum yang menenangkan—semua terasa seperti adegan dari sebuah film yang sering ia tonton.
Dea duduk di hadapan Ulil.
"Halo, Kak Ulil. Sudah lama menunggu, ya? Maaf, tadi aku kena macet di jalan," ucap Dea.
Dalam hati Ulil hanya bisa berkata, "Cantik sekali." Ia tak mampu mengalihkan pandangan dari wajah Dea yang kini begitu berbeda.
"Tidak apa-apa, kok, De. Yang penting sekarang kamu sudah di sini," jawab Ulil.
Dea memang sudah banyak berubah. Dulu ia perempuan yang sederhana dan biasa saja, kini tampil begitu anggun dan modis. Sementara Ulil, dari dulu hingga sekarang, penampilannya tetap sama—kemeja lusuh, rambut berantakan, sepatu yang solnya mulai lepas. Ulil memang selalu tak terlalu memedulikan penampilan.
"Kak Ulil sudah pesan makan belum?"
"Belum, De. Kakak tunggu kamu dulu, biar bisa pesan bareng."
"Ayo kita pesan sekarang."
"Ayo."
Mereka pun memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, Ulil mulai membuka obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkannya. Ia selalu merasa terpesona setiap kali Dea berbicara—cara bicaranya yang lembut dan tertata membuat Ulil betah menjadi pendengar.
Dea memang sudah jauh berbeda. Dulu, setiap kali diajak bicara, ia selalu tersipu dan tak berani menatap lama, bahkan bicaranya sering terbata-bata. Kini, setiap kali Ulil berbicara, Dea menatapnya dengan tenang, dan kata-katanya mengalir rapi. Kali ini, gantian Ulil yang merasa canggung di hadapannya.
Namun di tengah obrolan yang hangat itu, tanpa sengaja Ulil memperhatikan tangan kanan Dea. Ada sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Dengan hati-hati, Ulil memberanikan diri bertanya.
"De, kamu... sudah ada yang punya, ya?"
"Maksudnya bagaimana, Kak?"
"Itu," ucap Ulil sambil menunjuk cincin di jari Dea.
"Oh, ini? Iya, Kak. Aku sudah bertunangan."
Seketika hati Ulil terasa sesak. Ia menelan ludah pelan, mencoba menyembunyikan kekecewaan yang tiba-tiba muncul. Dalam hati ia hanya bisa bertanya-tanya, lelaki mana yang beruntung mendapatkan hati Dea.
Selera makannya mendadak hilang. Ia menyalahkan dirinya sendiri—kenapa dulu ia tak pernah benar-benar melihat Dea, dan kini penyesalan itu datang ketika semuanya sudah terlambat. Memang begitulah penyesalan, selalu datang di akhir.
"Wah, selamat, ya, De. Jangan lupa undang Kakak nanti di hari bahagiamu."
"Siap, Kak. Pasti aku undang."
Mereka melanjutkan makan sambil berbincang ringan. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam—saatnya mereka mengakhiri pertemuan itu. Dengan hati yang berat, Ulil harus berpisah dengan Dea. Entah apakah mereka akan bertemu lagi setelah ini. Ulil memilih untuk tidak berharap terlalu banyak, terlebih setelah mengetahui bahwa Dea telah memiliki seseorang yang menunggunya. Mendekati hati yang sudah terikat, baginya, hanya akan menjadi luka baru yang lain.
Mereka pun berpisah, melaju dengan sepeda motor masing-masing, membawa cerita dan perasaan yang mungkin tak akan pernah terucap.
Ulil baru saja berpisah dengan kekasihnya. Bertahun-tahun mereka menjalin hubungan, bahkan sempat berniat melangkah ke jenjang yang lebih serius, namun semua itu harus berakhir begitu saja—seperti kemarau panjang yang sirna oleh hujan sehari. Tak ada yang menyangka hubungan mereka akan berakhir setiba-tiba ini. Teman-teman maupun orang tua Ulil pun masih sulit percaya. Kini, dengan berat hati, Ulil harus merelakan kepergian orang yang selama ini menempati ruang paling istimewa di hatinya.
Sahabat-sahabat Ulil yang mendengar kabar itu tidak tinggal diam. Mereka segera datang menemuinya, mencoba menghibur, sekadar mengingatkan bahwa Ulil tidak sendirian—masih ada mereka yang setia menemani, baik dalam suka maupun duka. Yang datang sore itu adalah Supri dan Adi.
"Sudahlah, Lil, jangan terlalu larut dalam kesedihan," ucap Supri sambil menepuk pelan pundak Ulil. "Yang penting kamu sudah memberikan yang terbaik. Soal dia yang berkhianat, biar waktu yang membalas."
"Iya, Lil. Lagipula masih banyak perempuan baik di luar sana," sambung Adi menimpali. "Jangan berkecil hati, pasti ada yang lebih baik untukmu nanti."
"Oh iya, kemarin aku sempat mengobrol dengan adik kelas kita di Messenger," lanjut Adi. "Yang dulu suka sama kamu, masih ingat?"
"Siapa? Dea, bukan?" tanya Ulil pelan.
"Iya, Dea. Sekarang dia sudah berubah banyak, tambah cantik. Coba saja kamu dekati lagi," jawab Adi.
"Nanti aku mintakan nomor WhatsApp-nya, biar kukirim ke kamu," sambung Adi lagi.
Ulil tahu, sahabat-sahabatnya hanya ingin menghiburnya dengan cara mereka sendiri. Namun kenyataannya tidak semudah itu. Luka yang dirasakan Ulil bukan luka biasa yang bisa sembuh hanya dengan kata-kata penghibur.
Beberapa minggu berlalu. Kini Ulil hanya ditemani sepi. Ponsel yang dulu selalu ramai oleh notifikasi dari kekasihnya kini seperti rumah kosong tak berpenghuni. Dalam kesendirian itu, Ulil teringat kembali pada tawaran Adi. Tanpa berpikir panjang, ia pun menghubungi sahabatnya itu untuk meminta nomor Dea. Tidak lama, Adi membalas.
"Penasaran juga ternyata," canda Adi lewat pesan.
"Ini nomornya. Kalau ada kesempatan, jangan disia-siakan ya," lanjut Adi.
"Baik, terima kasih banyak," balas Ulil singkat.
Ulil tidak ingin terus terjebak dalam kesedihan masa lalu. Ia ingin membuka lembaran baru, meski dengan hati yang masih menyimpan luka. Mungkin, dengan begitu, ia bisa merasa hidup kembali. Setelah menarik napas panjang, ia pun memberanikan diri mengirim pesan pertama kepada Dea, adik kelasnya dulu.
"Halo, De. Apa kabar?"
Satu menit berlalu. Lima menit berlalu. Ulil masih menatap layar ponselnya, berharap balasan datang secepat mungkin. Namun Dea belum juga membalas.
Lima belas menit kemudian, terdengar suara notifikasi. Dengan sigap Ulil membuka pesan itu—benar, balasan dari Dea.
"Maaf, ini siapa, ya?" tulis Dea.
"Ini aku, Ulil, kakak kelasmu waktu SMA," balas Ulil.
"Oh, Kak Ulil. Alhamdulillah kabar aku baik, Kak. Kakak sendiri bagaimana?" jawab Dea.
Percakapan mereka pun mengalir. Hari itu, ponsel Ulil kembali ramai oleh notifikasi dari Dea. Tanpa disadari, untuk sesaat ia mulai bisa melupakan masa lalunya.
Hari demi hari berlalu, kedekatan mereka semakin terasa meski hanya lewat pesan. Hingga akhirnya Ulil memberanikan diri mengajak Dea bertemu langsung. Tanpa menunggu lama, Dea pun menyetujuinya. Mereka pun menentukan waktu dan tempat.
Hari yang dinanti tiba. Pukul setengah empat sore, Ulil bersiap-siap dengan hati yang dipenuhi kegembiraan. Sebelum pulang kerja, ia merapikan meja kantornya sambil tersenyum kecil. Pukul empat, ia bergegas menuju tempat pertemuan, sambil menyusun beberapa pertanyaan di sepanjang jalan sebagai bahan obrolan nanti.
Setelah setengah jam perjalanan dengan sepeda motor, Ulil pun tiba. Ia memilih meja yang nyaman untuk mereka berdua, lalu mengirim pesan kepada Dea, "De, aku sudah sampai." Namun tidak ada balasan. Ulil menduga Dea masih dalam perjalanan.
Setengah jam berlalu, Dea belum juga datang. Dalam hati Ulil bertanya-tanya, apakah Dea lupa, atau berubah pikiran. Rasa cemas mulai muncul.
Tak lama kemudian, seorang perempuan berpakaian serba hijau datang mengendarai motor Honda Scoopy, memasuki area parkir.
"Apakah itu Dea?" batin Ulil bertanya.
Perempuan itu berjalan pelan mendekat. Benar, itu Dea—perempuan yang sudah ditunggunya sejak tadi. Setiap langkahnya membuat jantung Ulil berdebar semakin cepat. Waktu seolah melambat; senyum tipis di bibirnya, langkah kakinya yang lembut, hembusan angin yang membelai jilbab dan pakaiannya, serta wangi parfum yang menenangkan—semua terasa seperti adegan dari sebuah film yang sering ia tonton.
Dea duduk di hadapan Ulil.
"Halo, Kak Ulil. Sudah lama menunggu, ya? Maaf, tadi aku kena macet di jalan," ucap Dea.
Dalam hati Ulil hanya bisa berkata, "Cantik sekali." Ia tak mampu mengalihkan pandangan dari wajah Dea yang kini begitu berbeda.
"Tidak apa-apa, kok, De. Yang penting sekarang kamu sudah di sini," jawab Ulil.
Dea memang sudah banyak berubah. Dulu ia perempuan yang sederhana dan biasa saja, kini tampil begitu anggun dan modis. Sementara Ulil, dari dulu hingga sekarang, penampilannya tetap sama—kemeja lusuh, rambut berantakan, sepatu yang solnya mulai lepas. Ulil memang selalu tak terlalu memedulikan penampilan.
"Kak Ulil sudah pesan makan belum?"
"Belum, De. Kakak tunggu kamu dulu, biar bisa pesan bareng."
"Ayo kita pesan sekarang."
"Ayo."
Mereka pun memesan makanan. Sambil menunggu pesanan datang, Ulil mulai membuka obrolan dengan pertanyaan-pertanyaan yang sudah disiapkannya. Ia selalu merasa terpesona setiap kali Dea berbicara—cara bicaranya yang lembut dan tertata membuat Ulil betah menjadi pendengar.
Dea memang sudah jauh berbeda. Dulu, setiap kali diajak bicara, ia selalu tersipu dan tak berani menatap lama, bahkan bicaranya sering terbata-bata. Kini, setiap kali Ulil berbicara, Dea menatapnya dengan tenang, dan kata-katanya mengalir rapi. Kali ini, gantian Ulil yang merasa canggung di hadapannya.
Namun di tengah obrolan yang hangat itu, tanpa sengaja Ulil memperhatikan tangan kanan Dea. Ada sebuah cincin melingkar di jari manisnya. Dengan hati-hati, Ulil memberanikan diri bertanya.
"De, kamu... sudah ada yang punya, ya?"
"Maksudnya bagaimana, Kak?"
"Itu," ucap Ulil sambil menunjuk cincin di jari Dea.
"Oh, ini? Iya, Kak. Aku sudah bertunangan."
Seketika hati Ulil terasa sesak. Ia menelan ludah pelan, mencoba menyembunyikan kekecewaan yang tiba-tiba muncul. Dalam hati ia hanya bisa bertanya-tanya, lelaki mana yang beruntung mendapatkan hati Dea.
Selera makannya mendadak hilang. Ia menyalahkan dirinya sendiri—kenapa dulu ia tak pernah benar-benar melihat Dea, dan kini penyesalan itu datang ketika semuanya sudah terlambat. Memang begitulah penyesalan, selalu datang di akhir.
"Wah, selamat, ya, De. Jangan lupa undang Kakak nanti di hari bahagiamu."
"Siap, Kak. Pasti aku undang."
Mereka melanjutkan makan sambil berbincang ringan. Tanpa terasa, waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam—saatnya mereka mengakhiri pertemuan itu. Dengan hati yang berat, Ulil harus berpisah dengan Dea. Entah apakah mereka akan bertemu lagi setelah ini. Ulil memilih untuk tidak berharap terlalu banyak, terlebih setelah mengetahui bahwa Dea telah memiliki seseorang yang menunggunya. Mendekati hati yang sudah terikat, baginya, hanya akan menjadi luka baru yang lain.
Mereka pun berpisah, melaju dengan sepeda motor masing-masing, membawa cerita dan perasaan yang mungkin tak akan pernah terucap.